Remaja Manusia Silver dalam Rangkulan Pekerja Sosial Balai Anak Handayani

Waktu menunjukkan pukul 14.30 (1/5/20), namun kesibukan di Gelanggang Olahraga (GOR) Cengkareng Jakarta Barat masih terlihat. Tempat ini dijadikan Tempat Penampungan Sementara (TPS) oleh Pemerintah DKI Jakarta Bekerjasama dengan Kementerian Sosial RI. Tempat ini disediakan dalam upaya memberi perhatian khusus kepada anak jalanan, gelandangan, pengemis dan Penerima Manfaat (PM) lainnya yang terdampak Covid-19.

Tampak petugas masih wara-wiri memeriksa kesehatan gelandangan dan pengemis di GOR Cengkareng. Mereka terpaksa dibawa ke TPS karena masih tetap turun ke jalan meskipun pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk tetap di rumah selama Pandemi Covid-19.

Satu diantara mereka yang ditempatkan di GOR Cengkareng adalah remaja berusia 17 tahun berinisial “AF”. Saat ditemui oleh pekerja sosial dari Balai Anak Handayani Kemensos, “AF” mengaku bahwa ia terjaring razia karena berniat mencari uang dengan menjadi “manusia silver”.

“Waktu itu saya lagi istirahat sebentar abis ngecat badan pake cat silver dicampur body lotion dan minyak, tapi keburu ditangkap Satpol PP,” ujar “AF” saat ditanyai oleh pekerja sosial Balai Anak Handayani.

“AF” mengaku bahwa ia baru pertama kali menjadi “manusia silver”. Ia tergiur oleh cerita teman-temannya bahwa menjadi manusia silver bisa menghasilkan uang Rp. 100 ribu hingga Rp. 200 ribu dalam satu hari. Sebelumnya, “AF” bekerja sebagai karyawan di sebuah toko pakaian. Namun karena situasi pandemi saat ini membuat toko tempat Ia bekerja ditutup sehingga Ia kehilangan pekerjaan dan juga penghasilan. Hal ini memaksanya untuk banting setir mencari pekerjaan lain. Dengan menjadi manusia silver, ia sudah mengira akan bisa makan dan membayar kebutuhan lainnya. Sayangnya, semua tidak berjalan sesuai harapannya. Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) keburu membawanya ke TPS GOR Cengkareng, Jakarta Barat.

Perlu diketahui bahwa warga tidak bisa lama berada di TPS. Petugas berusaha untuk mencari keluarga dari PM yang ada di TPS agar mereka bisa dikembalikan ke keluarga. Namun “AF” tidak berharap ada keluarga yang akan menjemputnya karena ia sudah lama tinggal sendiri. Ayah dan Ibu “AF” sudah lama bercerai dan saat ini tinggal dengan keluarga barunya masing-masing. Sedangkan “AF” tinggal bersama neneknya sejak berumur 3 tahun hingga ia memutuskan untuk hidup mandiri di kos-kosan yang disewanya.

“Saya gak berharap ada yang jemput, kalau ada yang jemput itu pasti sepupu saya atau saudara jauh. Tapi saya gak masalah”, jelas anak kedua dari 4 bersaudara ini.

Memang “AF” telah dijenguk oleh sepupunya, namun ia tidak diizinkan pulang karena sepupunya tidak membawa kelengkapan tanda bukti bahwa mereka adalah saudara. Mendengar hal tersebut, pekerja sosial Balai Anak “Handayani” Jakarta langsung melakukan tracing pada keluarga “AF”. Besar harapan para pekerja sosial agar remaja itu bisa kembali ke keluarga.

Pada hari berikutnya (2/5/2020), dua pekerja sosial berhasil menemui orang tua “AF” di bilangan Ciledug, Tangerang. Saat itu, pekerja sosial bertemu dengan ibu kandung, nenek, ayah tiri, dan saudara dari ibu “AF”. Pekerja sosial menjelaskan kronologis serta kondisi “AF” di GOR Cengkareng saat ini.

“Saya sebenarnya bingung mengurus “AF” bu, saya masih punya anak kecil dan juga harus menjaga kakak kandung nya yang sedang sakit,” cerita Ibu “AF”.

“AF” memiliki kakak yang mempunyai riwayat gangguan jiwa dan dua adik yang masih kecil sehingga ibu nya harus membagi perhatian antara “AF” dan tiga saudaranya. Hal ini membuat “AF” merasa bahwa ia tidak diperhatikan sehingga ia memilih untuk hidup mandiri.

Sebagai Lembaga yang memberikan perlindungan bagi anak, Balai Anak “Handayani” di Jakarta milik Kementerian Sosial siap menerima “AF” jika memang itu adalah upaya terakhir yang dapat dilakukan. Namun pekerja sosial terus mengupayakan agar “AF” dapat berada pada pengasuhan keluarga.

Pekerja sosial tetap melakukan komunikasi dengan keluarga “AF” agar mereka bisa sepenuhnya memberikan pengasuhan kepada “AF”. Komunikasi itupun membuahkan hasil. Keluarga “AF” dari pihak ibu bersedia kembali mengasuh “AF”, dan ayah kandung nya juga bersedia menjemputnya agar bisa kembali berkumpul dengan ibu dan saudaranya.

Kepada pekerja sosial, “AF” mengaku kapok bekerja di jalanan. Ia berharap, jika pulang nanti, ia berkeinginan melanjutkan pendidikannya yang sempat terputus.

“Saya ingin sekolah lagi Bu, semoga nanti pulang bisa ikut program kejar paket,” seru “AF”. Adapun “AF” direncanakan akan dijemput dalam waktu dekat. Pekerja sosial Balai Anak Handayani terus berkomunikasi dengan keluarga “AF” untuk memastikan rencana pemulangan “AF” dapat dilaksanakan dengan baik.

Meskipun “AF” nantinya akan dikembalikan kepada pengasuhan keluarga, pekerja sosial Balai Anak “Handayani” akan tetap memberikan pendampingan jika diperlukan kepada “AF” dan keluarganya.

Penulis : Rizka Surya Ananda
Editor : Humas Ditjen Rehsos

image_pdfimage_print

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *