Pekerja Sosial Sentra “Handayani” di Jakatya Ikuti Pelatihan terkait Penanganan Anak yang Terasosiasi Kelompok Teroris yang diadakan UNODC dan BNPT didukung oleh Uni Eropa melalui Program STRIVE Juvenile

Bogor, (1 Agustus 2022) – Anak-anak kerap menjadi korban aksi terorisme, mereka direkrut dan dieksploitasi oleh kelompok teroris dan ekstremis kekerasan untuk melakukan hal – hal seperti misi bunuh diri dan eksekusi, hingga menjadi kuli, juru masak, dan informan. Bahkan, anak perempuan pun rentan menghadapi kekerasan seksual dan gender.

Sentra “Handayani” di Jakarta sendiri, telah menangani isu radikalisme atau terorisme sejak tahun 2016. Kolaborasi apik yang terjalin dengan berbagai Institusi memperkuat penanganan rehabilitasi sosial bagi anak atau keluarga yang terpapar radikalisme. Sebagai korban, anak-anak ini perlu diberikan perlindungan, dukungan, dan akses terhadap rehabilitasi dan reintegrasi sosial untuk mendukung pemulihan mereka.

Pengembangan program rehabilitasi sosial bagi anak atau keluarga yang terpapar radikalisme terus dilakukan oleh Sentra “Handayani” di Jakarta. Kepala Sentra “Handayani”, Romal Sinaga menyatakan bahwa upaya rehabilitasi sosial ini tidak dapat dilakukan seorang diri. “Kita harus mendukung penuh seluruh proses kolaborasi yang dilakukan demi memperkiuat penanganan anak/keluarga terpapar radikalisme,” pesan Romal.

Dalam upaya menjalankan misi tersebut, pemerintah Indonesia dalam hal ini Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama United Nations Office Drugs and Crime (UNODC) dengan dukungan Uni Eropa pada tahun 2021 telah meluncurkan Program STRIVE Juvenile untuk memperkuat strategi pemerintah dalam upaya penanganan anak yang terasosiasi dengan kelompok teroris dan ekstremis kekerasan.
Sebagai implementasi program tersebut, BNPT berkolaborasi bersama UNODC dengan dukungan oleh Uni Eropa telah menyelenggarakan Pelatihan Pengembangan Kapasitas berupa Training of Trainers dan Lokakarya Pelatihan terkait penanganan rehabilitasi dan reintegrasi anak yang terampas kebebasannya dalam konteks terorisme pada tanggal 25 – 29 Juli 2022 di Bogor. Pelatihan ini dihadiri oleh Pekerja Sosial dari Sentra “Handayani” di Jakarta dan perwakilan BNPT, Kemenkumham, KPPPA, Densus 88, KPAI, dan organisasi sipil masyarakat yang aktif dalam isu rehabilitasi dan reintegrasi anak yang terasosiasi dengan kelompok teroris dan ekstremis kekerasan di Indonesia.

Kegiatan Training of Trainers sendiri bertujuan untuk, membekali partisipan dengan berbagai metode untuk mempersiapkan pelatihan bagi orang dewasa terkait dengan pelatihan anak-anak yang dirampas kebebasannya dalam penanggulangan terorisme, baik dari aspek teknis maupun logistik. Sementara dalam lokakarya pelatihan, selama 5 hari peserta berlatih untuk memformulasikan penilaian, perencanaan dan pelaksanaan rehabilitasi dan reintegrasi, serta memperkuat kerja sama antar lembaga.

Pelatihan pengembangan kapasitas ini merupakan salah satu bentuk implementasi dari Rencana Aksi Nasional tentang Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah Pada Terorisme (RAN PE) 2020 – 2024 dalam fokus dan strategi untuk mendorong adanya pelatihan khusus di bidang pencegahan ekstremisme kekerasan, mengenai rehabilitasi dan reintegrasi individu, khususnya anak-anak yang terkait dengan kelompok teroris dan ekstremis berbasis kekerasan.

Kegiatan ini nantinya diharapkan dapat membekali para pemangku kepentingan terkait dengan kemampuan komunikasi yang peka terhadap kebutuhan anak dan gender, memformulasikan penilaian dan manajemen kasus yang efektif, serta mempersiapkan perencanaan dan pelaksanaan rehabilitasi dan reintegrasi dengan melibatkan seluruh aktor terkait, termasuk keluarga dan masyarakat.

Sentra “Handayani” di Jakarta selanjutnya akan tetap mendukung seluruh proses pelaksanaan STRIVE Juvenile yang diselenggarakan oleh BNPT berkolaborasi dengan UNODC.

Penulis: Tirani Larasati

image_pdfimage_print

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *