New Normal, Balai Anak Handayani Selenggarakan PGTS Daring

JAKARTA, 3 Juli 2020 — Balai Rehabilitasi Sosial Anak Memerlukan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) “Handayani” di Jakarta selengggarakan Peksos Goes To School melalui zoom meeting . Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari sejak tanggal 2 sampai 3 Juli 2020.

Kegiatan dibuka langsung oleh Kepala BRSAMPK Handayani, Neneng Heryani yang menyampaikan sekilas tentang tujuan kegiatan PGTS. Neneng mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan penyesuaian akibat pandemi Covid 19. “PGTS biasanya dilakukan dengan langsung menuju ke sekolah-sekolah, namun karna situasi saat ini kita harus melakukan melalui zoom” jelas Neneng dihadapan 50 anak yang hadir di zoom meeting.

Adapun Peserta yang mengikuti PGTS adalah siswa SD Kelas VI sampai SMP Kelas IX, serta merupakan siswa yang sekolah nya berada di wilayah DKI Jakarta. “Kami memang membatasi peserta gelombang I hanya untuk anak-anak yang di wilayah DKI saja. Semoga untuk gelombang II bisa mengikutsertakan yang berada di luar wilayah DKI,” sebut Neneng. Terkait dengan materi yang disampaikan, Neneng menjelaskan bahwa materi telah disesuaikan dengan situasi remaja saat ini. ” Materi yang disampaikan seputar kenakalan remaja di masa pandemi, jejak digital, dan juga ada materi penguatan untuk menjadi remaja yang positif yang disampaikan oleh psikolog,” ujar Neneng.

Sementara itu, hari pertama kegiatan diisi dengan materi tentang BRSAMPK Handayani yang langsung disampaikan oleh Kepala Balai. Selain itu, hari pertama juga diisi dengan materi tentang kenakalan remaja di masa pandemi yang disampaikan oleh Pekerja Sosial Maria Josefin Barus.

Materi kenakalan remaja berfokus pada identifikasi kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak selama mereka berada di rumah. “Selama dalam masa PSBB, anak-anak tidak boleh keluar rumah kalau bukan masalah yang urgent. Namun dalam beberapa kasus masih ditemui anak-anak ikut tawuran meskipun mereka diminta untuk tetap berada di rumah,” papar Maria.

Selanjutnya pada hari kedua dibahas mengenai jejak digital yang disampaikan oleh penyuluh sosial dan materi tentang bagaimana menjadi remaja yang positif dan menyenangkan oleh psikolog.

Penyuluh sosial, Rizka Surya Ananda menjelaskan bahwa generasi Z atau mereka yang lahir dalam rentang tahun 1998 hingga 2010 merupakan digital native karena lahir pada saat teknologi sudah berkembang pesat. Hal ini mengakibatkan gen Z sulit dipisahkan dari penggunaan teknologi atau internet. Namun Gen Z tidak aware dengan aktivitas mereka di internet hingga tidak jarang meninggalkan jejak digital buruk yang merugikan mereka di masa depan.

Di sisi lain, Psikolog Fathimatuzzahroh Rahmah memaparkan bagaimana konsep diri remaja dapat terbentuk. “Konsep diri dapat dibangun dengan cara mengenali diri sendiri, mampu menunjukkan diri dan perasaan yang positif, dan manerima diri,” ujar nya.

Pada usia usia remaja, lanjut Fathimah, anak-anak yang belum dapat menentukan konsep dirinya kerap menjadi korban bully. Pada kasus lain, remaja menjadi mudah terpengaruh karena lingkungan negatif. “Misalnya remaja meladeni ajakan berantem atau tawuran dari temannya karna tidak mau dikatai penakut,” jelas nya mencontohkan.

Selain antusiasme anak-anak peserta, kegiatan ini juga mendapat apresiasi dari orang tua. “Bagus banget, saya orang tua dari salah satu peserta. Terima kasih untuk para pembimbimbing,” tulis Yusrika Sari pada kolom komentar Youtube BRSAMPK Handayani.

Adapun kegiatan PGTS disiarkan langsung melalui saluran youtube BRSAMPK Handayani sehingga masih dapat disaksikan oleh masyarakat yang bukan peserta.

Penulis : Rizka Surya Ananda

image_pdfimage_print

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *