Mengenal Sosok “NF” dibalik Kisah Pilu Tewasnya “APA” si Balita Mungil yang Ceria

Masih segar dalam ingatan seluruh warga Indonesia, atas tragedi yang menimpa seorang balita mungil yang dikenal sangat ceria “APA”.  Kamis 6 Maret 2020, ia tewas ditangan tetangganya yang juga teman bermainnya sendiri “NF” si remaja cerdas. Penelusuran kejadian viral ini dilakukan oleh pekerja sosial BRSAMPK Handayani, Tirani Larasati dan Sri Musfiah. 4 hari setelah kejadian, kami menelusuri jejak-jejak kasus ini. Kami bertemu dengan Lurah, Heru Supriyono dan Erni Sumirah Kepala Seksi Kesejahteraan yang mendampingi. Lirih mereka menjelaskan step by step kejadian tersebut. Mereka juga menceritakan kepanikan dan kesedihan keluarga korban beserta warga lain yang menyaksikan proses kasus ini bergulir.

Meninggalkan kemalangan dan kesedihan pada kasus ini, kami menemukan sisi-sisi positif yang juga terlupakan dari “NF”. Ia memang bukan anak yang senang bersosialisasi, namun ia memiliki segudang prestasi. Ia merupakan salah satu anggota tim voli di Kelurahannya. Ia menjadi bagian penting dalam tim ini, selain karena keterampilannya bermain voli, namun ia cukup bersemangat dan fokus untuk meningkatkan kemampuannya. Pada tahun 2018, ia membawa timnya menang dalam kompetisi lomba voli se-Kelurahan di DKI Jakarta. Kemenangan itu, dilanjutkan pada tahun 2019 pada tingkat Kecamatan. Tidak cukup disitu, pada tahun yang sama “NF” juga menyabet piala sebagai pemenang lomba tenis meja tingkat Provinsi.

Sementara sekolah, mengakui bahwa “NF” juga sangat mahir menggambar. Ia dapat menggambar hal-hal yang tidak biasa. Teman-teman “NF” yang mengetahui, seringkali merasa takjub melihat hasil karyanya. Ia senang menggambar tokoh-tokoh kartun Jepang atau yang lebih sering disebut “anime”. Gurupun menyampaikan bahwa “NF” merupakan salah satu siswi yang cerdas dalam bidang akademik. Nilai-nilai dalam pelajarannya dalam kategori baik. Ia juga mahir dalam berbahasa Inggris, namun sayangnya lagi-lagi ia tidak memiliki banyak teman. Dalam keterbatasan kondisi ekonomi dan fasilitas yang dimiliki “NF” ia tetap dapat mengembangkan potensinya. Hal ini membuktikan kembali kecerdasan “NF”.

“NF” cukup aktif dalam media sosial dan memanfaatkan fasilitas telepon genggam yang dimilikinya. Ia juga menyenangi film-film berbau kekerasan yang apabila ditelaah kembali film-film yang ditontonnya memiliki tingkat nalar yang cukup rumit. Film-film tersebut mendorong para penontonya untuk berpikir dan menggunakan kemampuan imajinasi yang cukup tinggi. Dalam hal ini nampak bahwa kemampuan “NF” dalam menganalisa cukup dalam dan berbeda dengan anak pada usianya. Apabila hal ini disadari oleh orang tua “NF”, maka hal ini dapat berkembang ke arah yang lebih baik.

Ia memang melakukan tindak pidana yang sangat berat, namun disisi yang lain kita tidak dapat menyangsikan bahwa ia tetaplah seorang anak. Ia masih sangat mungkin untuk dibimbing dan dibina menjadi orang yang lebih baik. Membekali ia dengan hal-hal positif agar mendukung potensi yang dimilikinya. Nantinya proses hukum “NF” akan tetap berlangsung, namun tetap akan menjunjung tinggi hak-haknya sebagai seorang anak dengan menggunakan Undang-Undang (UU) No. 35 tahun 2014 tentang Perubahan UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak serta UU No. 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Tentu BRSAMPK Handayani sangat menyayangkan hal ini dapat terjadi, kami turut berbela sungkawa atas kehilangan yang dirasakan oleh orang tua dan keluarga “APA”. Semoga kasus ini menjadi cambuk yang cukup keras untuk para orang tua di Indonesia dalam melakukan pengawasan dan perlindungan terhadap anak-anak.

Penulis : Tirani Larasati

image_pdfimage_print

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *