Masa Pandemi Tidak Halangi Pekerja Sosial Balai Anak “Handayani” di Jakarta Dampingi Diversi Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH)

JAKARTA (24 April 2020)-Bertempat di Bareskrim Polri Direktorat Tindak Pidana Siber, siang ini pekerja sosial Balai Rehabilitasi Sosial Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) “Handayani” di Jakarta mendampingi remaja yang melakukan tindak pidana penipuan melalui media sosial “MZ” melaksanakan diversi (red: proses penyelesaian kasus anak diluar proses pengadilan).Diversi ini dihadiri pula oleh “MZ” beserta ibunya, pekerja sosial, Pembimbing Kemasyarakatan Badan Pemasyarakatan (PK Bapas), penyidik, dan korban melalui video conference sesuai dengan amanat Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA).

Permasalahan ini berawal dari niat “MZ” untuk menjual masker secara daring, namun masker tersebut sebenarnya tidak ada. “MZ” melakukan penipuan tersebut berdasarkan saran dari temannya. Ia mencari korban melalui media sosial facebook. Hingga pada akhirnya, “MZ” berhasil melakukan penipuan terhadap korban. Masker bodong tersebut dijual oleh “MF” dengan harga Rp. 800.000; per kotak. Korban yang berada di Sragen, Jawa Tengah telah melakukan transaksi pembayaran melalui rekening Bank. Setelah mengetahui korban telah melakukan pemabayaran, “MZ” segera memblokir kontak korban. Tak lama “MZ” dilaporkan oleh korban dan ditangkap oleh pihak Kepolisian.

Menjunjung kepentingan terbaik bagi anak, Kepala Balai memberikan tugas dan arahan kepada pekerja sosial untuk melakukan pendampingan dan advokasi terhadap “MZ”. Diversi yang dilakukan hari ini, berupaya untuk menyelesaikan permasalahan “MZ” melalui musyawarah. Korban mengungkapkan rasa kesal dan kecewa terhadap “MZ”. Disamping itu, “MZ” menunjukkan rasa penyesalannya dan terus memohon maaf kepada korban. Pekerja sosial terus berupaya membantu meyakinkan korban bahwa setelah permasalahan ini, akan tetap dilakukan monitoring berkala terhadap “MZ” agar ia tidak melakukan hal-hal yang melanggar peraturam di kemudian hari.

Diversi berlangsung alot, namun pada akhirnya diversi dinyatakan berhasil dengan beberapa kesepakatan. Korban mau memaafkan “MZ” dengan syarat bahwa ia harus membuat pernyataan tidak akan mengulangi hal yang sama dikemudian hari. Korban juga tidak membebankan kepada “MZ” untuk mengganti uang tersebut. Selanjutnya, “MZ” dikembalikan tanggung jawab kepengasuhannya kepada orang tuanya dan akan dilakukan monitoring secara berkala kepada “MZ” oleh PK Bapas dan pekerja sosial.

Penulis: Tirani Larasati
Editor: Humas Ditjen Rehsos

image_pdfimage_print

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *