Lakukan Respon Kasus Anak Dalam Situasi Darurat, Kementerian Sosial Bantu Pemenuhan Nutrisi Anak

JAKARTA, (28 Februari 2021) – Kementerian Sosial RI melalui Balai Rehabilitasi Sosial Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) “Handayani” di Jakarta kembali lakukan respon kasus bagi anak. Kali ini respon kasus dilakukan bagi seorang anak yang berasal dari Lampung. Anak tersebut telah berada di rumah singgah di sekitar daerah Kenari Jakarta Pusat sejak 23 Februari 2021.

Adalah “NA”, seorang anak laki-laki berusia 6 tahun. Sebelumnya, saat lahir “NA” memliki kondisi sehat dan normal. Namun, saat berusia 18 bulan “NA” mengalami kejang dan tidak terdapat gejala penyakit apapun setelahnya. Barulah saat “NA” berusia 4 tahun kedua bola matanya berwarna putih, menebal, dan “NA” kesulitan berjalan karena penglihatannya sudah kabur, terkadang kalau berjalan tersandung dan hanya bisa meraba.

Sang Ibu segera memeriksakan “NA” dan membawanya berobat ke Rumah Sakit (RS) Seputih Banyak di daerah Lampung. Tak sedikit biaya yang harus dikeluarkan oleh Sang Ibu setiap kali membawa “NA” ke RS. “NA” sudah diperiksakan sebanyak tiga kali, namun belum menunjukkan perubahan yang signifikan. Akhirnya, Dokter di RS tersebut menyarankan agar “NA” dibawa ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) yang ada di Jakarta karena diketahui peralatan dan penanganan yang dibutuhkan oleh “NA” dapat terpenuhi.

Tak menyerah, sang Ibu akhirnya membawa “NA” ke RSCM dan akhirnya dilakukan operasi pertama. Setelah operasi pertama, Dokter mewajibkan “NA” untuk melakukan kontrol dalam rangka melihat perkembangan kondisi matanya. Sudah selama 3 tahun lamanya, “NA” rutin melakukan kontrol ke RSCM hingga sekarang. Orang tua membawa “NA” dari Lampung ke RSCM menggunakan travel pulang pergi dengan biaya minimal delapan ratus ribu rupiah setiap kali melakukan kontrol.

Selanjutnya, “NA” akan dijadwalkan untuk melakukan operasi mata sebelah kiri pada 2 Maret 2021. Hal tersebut harus dilakukan karena Dokter melihat di mata sebelah kiri “NA” terlihat juling dan harus dilakukan pemeriksaan pada syaraf mata kiri “NA” karena dikhawatirkan terdapat gejala yang lain. Selama ini, orang tua “NA” berupaya untuk mengobati anaknya dengan biaya sendiri yang merupakan hasil kerja ayahnya “NA”

Berdasarkan informasi tersebut, Kepala Balai Anak “Handayani”, Hasrifah Musa memberikan arahan kepada pekerja sosial untuk menelusuri keberadaan anak dan segera lakukan asesmen kebutuhan. “Tolong telusuri keberadaan anak, pastikan ia tidak mengalami kesulitan dalam mengakses pengobatannya di RSCM,” pesan Hasrifah

Pekerja sosial segera menindaklanjuti arahan tersebut dengan melakukan penelusuran keberadaan anak. Diketahui bahwa “NA” bersama Ibunya saat ini berada di sebuah Rumah Singgah di daerah Kenari Jakarta Pusat. Sang Ibu terpaksa menetap sementara di Jakarta mengingat banyaknya proses pemeriksaan yang harus dilakukan “NA” sebelum menjalani operasi mata kirinya. Permasalahan ekonomi sudah menjadi hambatan yang besar bagi keluarga ini.

Disampaikan oleh Ibu “NA” bahwa selama anaknya terdaftar sebagai pemegang akses Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mandiri yang setiap bulannya harus membayar sebesar dua ratus ribu rupiah. “NA” sebenarnya memiliki BPJS gratis yang disediakan oleh pemerintah, namun karena “NA” karena belum masuk ke dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), maka BPJS tersebut tidak dapat digunakan.

Ayah “NA” saat ini belum bekerja kembali akibat Covid-19. Sebelumya ayah “NA” bekerja di ladang dengan penghasilan yang tidak menentu dimana ialah yang menjadi sumber penghasilan satu-satunya pada keluarga ini. Satu waktu Ibu “NA” pernah mengikuti acara dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan mendapat bantuan berupa susu dan uang sebesar lima ratus ribu rupiah. Uang tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Saya saat ini benar-benar bingung Ibu, karena saya harus tinggal sementara di Jakarta sementara suami saya sedang tidak bekerja. Namun saya tetap akan berupaya mengobati anak saya,” ujar sang Ibu

Berdasarkan informasi tersebut, pekerja sosial berusaha menghubungkan keluarga dengan pihak Pemerintah Daerah melalui Satuan Bakti Pekerja Sosial Lampung. Kemudian diketahui bahwa “NA” telah diajukan oleh pihak desa untuk dapat masuk ke dalam DTKS, sehingga lebih mudah mendapatkan akses bantuan dan jaminan sosial dari pemerintah.

Kebutuhan “NA” saat ini adalah pemenuhan gizi dan nutrisi mengingat sang Ibu jg cukup kesulitan menyediakan makanan bergizi karena keterbatasan ekonomi. Balai Anak “Handayani” memberikan bantuan pemenuhan gizi dan nutrisi berupa susu, biskuit, dan alat-alat untuk bersih diri. Selanjutnya pihak Balai Anak “Handayani” akan terus memantau dan memastikan “NA” terpenuhi segala hak-haknya selama menunggu proses operasi.

Penulis : Tuti Nurhayati
Editor : Tirani Lasarati

image_pdfimage_print

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Chat
Hubungi Kami
Hallo!
Ada yang bisa kami bantu?