Kementerian Sosial Lakukan Respon Kasus Anak Gizi Buruk di Marunda Jakarta Utara

JAKARTA, (22 Februari 2021) – Kementerian Sosial RI melalui Balai Anak “Handayani” di Jakarta kembali mendapat informasi mengenai kasus anak. Informasi kali ini berasal dari Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Anak tentang anak dalam kondisi gizi yang sangat buruk. Adalah “R” seorang anak laki-laki berusia 4 tahun di wilayah Marunda Jakarta Utara.

Berangkat dari informasi tersebut, Plt. Kepala Balai Anak “Handayani”, Sulistya Ariadhi segera menugaskan tim respon kasus untuk melakukan penelusuran dan asesmen terhadap anak tersebut. “Tolong pastikan, lihat kondisi kesehatan anak dan asesmen kebutuhan gizi serta nutrisi untuk anak tersebut”, pesan Sulistya.

Setibanya di kediaman anak, tim respon kasus langsung menemui ketua RT setempat, Wastini serta Ibu Kandung “R”. Berdasarkan informasi dari Ibu “R”, diketahui bahwa “R” sejak lahir hingga beruisa 3 tahun memiliki kondisi sehat serta “R” tidak memiliki gejala sakit yang serius. Pada usia 2 tahun “R” sudah mulai bisa berjalan. Namun, suatu ketika “R” sedang bermain sepeda roda tiga diluar rumah bersama dengan ibunya, “R” terjatuh dari sepeda dan setelah kejadian tersebut “R” tidak mau bermain lagi dan lebih memilih bermain di rumah.

Saat ini usia “R” adalah 4 tahun 6 bulan. Orangtua “R” menempati rusunawa sudah 4 tahun lebih. Ayah “R” pergi meninggalkan “R” dan Ibunya pada saat “R” berumur 2 tahun dengan alasan hendak pulang ke kampunya di Sulawesi Tenggara. Ibu “R” mencoba menghubungi ayah “R” melalui telpon namun tidak terhubung dan sama sekali tidak bisa di hubungi.

Setelah dua tahun Ayah “R” tidak kembali, Ibu “R” memutuskan untuk menikah kembali namun belum secara resmi. Saat ini Ayah Tiri “R” bekerja sebagai supir bajaj di daerah Penjaringan dan jarang pulang ke Rusunamea dengan alasan untuk menghemat uang. Ayah tiri “R” pulang ke Rusunawa seminggu sekali untuk memberikan nafkah untuk kebutuhan sehari-hari. Sebelum pandemi Covid-19, Ibu “R” pernah bekerja sebagai cuci buruh di sekitar Rusunawa dengan bayaran 50 ribu rupiah perharinya. Namun saat ini, Ibu “R” sudah tidak dapat membantu perekonomian keluarga karena tidak ada lagi yang membutuhkan tenaganya. Ibu “R” hanya fokus mengurus “R” dan kakak yang lainnya.

Perubahan fisik “R” terjadi saat ia berusia 3 tahun. “R” mengalami kemunduran fisik dengan berkurangnya berat badan dan tidak memiliki selera makan seperti anak lainnya makan. Semenjak itu “R” hanya mau makan sama nasi dan telur saja. Semakin hari badan “R” semakin menyusut dan berat badannya semakin berkurang.

Ibu “R” sudah memeriksakan “R” ke Posyandu dan Puskesmas setempat dan saat itu dinyatakan sakit karena kekurangan gizi. Namun hingga saat ini “R” belum menunjukkan perubahan fisik yang lebih baik malah semakin memburuk. Saat ini berat badan “R” hanya sekitar 8 kg dan tidak sesuai dengan usia pertumbuhan anak seusianya. “R” sering mengeluh sakit di kakinya dan kakinya semakin mengecil hingga tidak bisa berjalan.

Selain itu, Ibu “R” pernah memeriksakan “R” ke Rumah Sakit Islam Sukapura, namun tidak ditemukan penyakit apapun di badan “R”. Pihak RT setempat tidak tinggal diam, Wartini menyampaikan bahwa pihak Puskesmas pernah membantu mendatangkan Dokter Ahli Gizi ke rumah “R” untuk melihat kondisi “R”. Kemudian Dokter menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan kembali ke rumah sakit besar seperti RSCM.

Sebelumnya, Ibu “R” menyampaikan bahwa imuninasai “R” tidak lengkap karena ibunya sibuk bekerja sehingga tidak ada waktu untuk membawa “R” imunisasi. “R” juga tidak bisa makan dengan porsi yang banyak dan saat ini hanya dapat meminum susu dan memakan biskuit. Apabila “R” makan terlalu berlebih, maka “R” pasti akan muntah dan tidak bisa mencerna makanan tersebut dengan baik. “R” juga selalu mengeluh kesakitan apabila akan buang air besar dan terkadang berdarah.

RT setempat cukup kooperatif dan bisa langsung bertindak apabila ada warganya yang membutuhkan pertolongan. Selama pandemi covid ini Ibu “R” selalu mendapatkan bantuan sembako baik dari pemerintah maupun yang lainnya, namun setelah di ganti oleh uang Ibu “R” sudah tidak mendapat bantuan lagi. Menurut pengakuan ibu “R” bahwa dirinya juga mendapat bantuan dari PKH sebesar Rp. 2.200.000,- dan di ambil pada tanggal 10 Januari 2021. Uang yang di dapat dari PKH dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan membeli vitamin untuk “R”.

Ibu “R” juga sudah memiliki BPJS untuk membantu “R” berobat yang sempat hilang. Setelah dilakukan tindakan dari RSCM “R” mengalami peningkatan berat badan dan sudah tidak termasuk kedalam gizi buruk lagi namun berubah menjadi gizi kurang.

Saat ini, “R” masih perlu melakukan kontrol ke RSCM secara berkala. Berdasarkan hasil asesmen Balai Anak “Handayani” memberikan bantuan pemenuhan nutrisi dan gizi bagi “R” seperti susu, buah-buahan, vitamin, dan kebutuhan lainnya. Selanjutnya, Balai Anak “Handayani” akan terus melakukan monitoring kepada anak untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan tubuh anak.

Penulis : Tuti Nurhayati

Editor : Humas Balai Anak Handayani

image_pdfimage_print

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *