Kementerian Sosial Lakukan Reintegrasi Sosial Anak Korban Terpapar Radikalisme

JAKARTA (8 Juli 2021)– Kementerian Sosial melalui Balai “Handayani” Jakarta melakukan reintegrasi sosial bagi “R” (inisial bukan sebenarnya) untuk kembali dalam kepengasuhan keluarga dan kembali menjadi bagian dari masyarakat. “R” anak korban terpapar radikalisme rujukan dari kepolisian, Detasemen Khusus 88 Anti Teror (Densus 88).

“R” menjalani proses rehabilitasi sosial kurang lebih satu tahun, sejak Juni 2020. Rehabilitasi sosial yang diberikan kepada “R” melalui Program Asistensi Rehabilitasi Sosial (Atensi) berbasis residensial, meliputi: pemenuhan kebutuhan layak, perawatan kesehatan, konseling psikologis dan sosial, terapi realitas , terapi kognitif, diskusi terfokus, terapi kelompok, kontra narasi, wawasan kebangsaan, dan wawasan keagamaan.

Berdasarkan catatan hasil perkembangan Pekerja Sosial, “R” telah menunjukkan perkembangan perubahan perilaku. Sebelumnya, “R” mengalami kesulitan bergaul dengan teman sebaya dan yang lainnya karena tidak menerima perbedaan (suku, agama), tidak mau mengucap dan menjawab salam, tidak mau shalat berjamaah di masjid, dan hal lainnya tentang wawasan kebangsaan. Namun, saat ini “R” sudah mulai dapat menerima perbedaan, serta sudah sangat dapat bekerja sama dengan semua teman.

Berdasarkan perkembangan perubahan perilaku yang cukup signifikan dari “R”, ditambah dengan persetujuan dari pihak perujuk, maka disepakati pada pembahasan kasus bahwa dapat dilakukan reintegrasi sosial bagi “R”. Sebelum dilakukan reintegrasi sosial, Pekerja Sosial melakukan koordinasi dengan Pemerintah Daerah dimana “R” tinggal, dalam hal ini Dinas Sosial. Pekerja Sosial juga melakukan kunjungan rumah untuk melakukan asesmen kesiapan keluarga, pemberian materi parenting skill, dan pendekatan kepada masyarakat melalui pelibatan aparat daerah setempat.

Selain itu, Balai “Handayani” juga mengakseskan pendidikan bagi “R” dan adiknya di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di sekitar Kelurahan tempat tinggalnya.

“Ini merupakan proses yang cukup sulit, karena sebelumnya anak beserta Ibunya tidak mau memperoleh pendidikan yang bersifat formal. Setelah pendekatan dan segala prosesnya, akhirnya Ibu mengijinkan dan anak-anaknya bersedia mengikuti kegiatan sekolah PKBM nantinya”, ujar Kepala Balai, Hasrifah.

Pelaksanaan serah terima reintegrasi sosial “R” dilakukan oleh Balai “Handayani” didampingi oleh Densus 88, Dinas Sosial, Bintara Pembina Desa (Babinsa) Koramil, Kepolisian, Lurah setempat, dan Ketua Rukun Warga (RW) setempat.

“Kami sebagai perpanjangan tangan dari Kementerian Sosial, akan siap mengawasi “R” beserta keluarga, dan juga akan memasukkan “R” ke dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) untuk mendapatkan jaminan sosial dan bantuan sosial”, kata Lurah, Eka.

Selanjutnya, pendampingan, pengawasan, serta pemberdayaan keluarga akan dilakukan oleh Balai “Handayani” bekerja sama dengan Pemerintan daerah dan Non-Governmental Organization (NGO) Society against Radicalism and Violent Extremism (SeRVE).

image_pdfimage_print

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *