Kemensos Siap Berikan Rehabilitasi Sosial bagi Anak Korban Ekploitasi Seksual dan Ekonomi yang Melibatkan Artis CA

JAKARTA, (19 MARET 2021) – Kementerian Sosial RI melalui Balai Anak “Handayani” di Jakarta kembali menerima rujukan lima anak korban eksploitasi seksual dan ekonomi yang dirujuk oleh Polda Metro Jaya pada Rabu (17/3) lalu. Kelima anak tersebut adalah hasil penggrebekan di Hotel Alona Tangerang yang diduga milik artis CA.

Hadir di Konferensi Pers yang digelar Polda Metro Jaya siang tadi, Kepala Balai Anak “Handayani”, Hasrifah Musa mengatakan kelima anak tersebut sedang menjalani tahap awal rehabilitasi sosial.

“Sejak dirujuk Rabu malam, hal pertama yang kami lakukan tentu memenuhi kebutuhan pokok mereka dulu. Lalu kami lakukan asesmen, pemeriksaan psikologis, dan juga pemeriksaan kesehatan awal,” jelasnya.

Diungkapkan Hasrifah, keterlibatan anak dalam prostitusi berakar dari adanya disfungsi keluarga. Klaim ini berdasarkan hasil asesmen yang menunjukkan adanya relasi kurang baik antara anak dan orang tua.

“Anak-anak ini berasal dari keluarga yang tidak utuh, walaupun tidak semuanya. Ada yang orang tua nya bercerai lalu menikah lagi, ada yang diasuh oleh nenek nya sejak bayi. Memang kita tidak bisa mengatakan bahwa perceraian pasti berakhir buruk. Namun dalam kasus ini, anak cerita kalau mereka sudah tidak diurus lagi oleh orang tua sejak perceraian terjadi. Artinya fungsi utama keluarga sebagai pemberi kasih sayang tidak berjalan dengan baik di sini,” paparnya.

“Dilihat dari fungsi ekonomi, anak-anak mengaku mereka perlu bekerja agar bisa memenuhi kebutuhan. Sebagian besar anak-anak ini berasal dari keluarga berpenghasilan rendah, ditambah dengan pandemi membuat keadaan finansial semakin sulit. Kita bisa lihat faktor ekonomi cukup berperan di sini, tapi kita juga tidak bisa mengesampingkan adanya faktor gaya hidup dari anak,” sambungnya.

Kemudian dari sisi fungsi pendidikan, Hasrifah mengatakan ada anak yang sudah putus sekolah sejak SD lalu tidak melanjutkan sekolah lagi. Lalu di sisi fungsi sosial budaya, keluarga seharusnya memainkan peran penting dalam menanamkan nilai moral kepada anak agar mereka bisa bergaul dengan baik ditengah masyarakat. Namun kenyataan nya kita melihat anak-anak terlibat dalam perbuatan yang melanggar norma. Disfungsi keluarga ini pun memiliki konsekuensi negatif terhadap perkembangan psikologis anak.

“Fungsi-fungsi keluarga yang tidak dijalankan dengan baik ini memengaruhi psikologis anak. Emosi nya tidak stabil dan resiliensi diri nya rendah, sehingga mudah dipengaruhi orang lain. Rata-rata anak-anak itu kan nerima ajakan dari temannya, makanya sampai terlibat prostitusi,” tuturnya.

Kerentanan ini, lanjut Hasrifah, dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingannya sendiri.

“Saya sangat mengecam tindakan oknum yang mengeksploitasi anak untuk kepentingan pribadi. Dan hal ini terjadi secara berulang. Baru dua minggu yang lalu saya ikut konferensi pers untuk kasus yang sama, sekarang ada lagi,” ungkapnya.

Ia mengakui, prostitusi yang melibatkan anak adalah hal yang kompleks, ada banyak faktor yang menjadi penyebab ditambah dengan kemajuan teknologi juga memudahkan praktek ini. Oleh karena itu, perlu adanya upaya dan kerja sama semua pihak dalam menanggulangi masalah ini, terutama untuk memberikan efek jera pada pelaku.

Selanjutnya, terkait dengan proses rehabilitasi sosial, Hasrifah megungkapkan anak-anak akan menjalani tes HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS). Hal ini merupakan prosedur wajib yang diterapkan di Balai. Pihak balai juga akan memberikan terapi psikososial berupa terapi kognitif, terapi asertif, konseling pskologis, terapi mental spiritual, dan ketrampilan usaha.

Sebelumnya, prostitusi yang melibatkan anak ini dibongkar pada Selasa (16/3) malam. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Yusri Yunus dalam keterangannya mengatakan pihaknya telah menentukan tiga tersangka, termasuk artis CA yang merupakan pemilik hotel.

“Kami telah menangkap 3 tersangka yang berperan sebagai mucikari, pengelola hotel, dan artis CA sebagai pemilik hotel,” jelasnya dihadapan wartawan pada konferensi pers siang tadi.

Bersama tiga tersangka, polisi juga mengamankan 15 anak korban di bawah umur, dimana 5 di antaranya dirujuk ke Balai Anak “Handayani”.

“Modus operandinya, pelaku saling bekerja sama menawarkan wanita BO ( booking out ) yang merupakan anak di bawah umur melalui aplikasi media sosial seperti whatsapp dan Mi Chat dengan tarif Rp. 400 ribu hingga Rp. 1 juta. Dari nilai tersebut, joki memperoleh imbalan sebesar Rp. 50 ribu sampai dengan Rp. 100 ribu sekali transaksi,” papar Yusri.

Sementara itu, Artis CA dianggap mengetahui praktek prostitusi di hotel nya dan memerintahkan kepada pengelola agar pelaku dan korban tetap tinggal di hotel dengan tujuan mempertahankan occupancy hotel. Para pelaku akan dijerat pasal berlapis dengan ancaman 10 tahun penjara.

Penulis : Rizka Surya Ananda

image_pdfimage_print

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Chat
Hubungi Kami
Hallo!
Ada yang bisa kami bantu?