Hedayah Selenggarakan Training Bagi Pekerja Sosial Dan Psikolog Brsampk Handayani

Hedayah menyediakan fasilitator yang memiliki pengalaman serta kompeten di dalam bidang CVE di dunia. Cristina Mattei sebagai program manager, Joseph Gyte sebagai program senior, serta Aditya Gana, Abiye Iruayenama, Nabila Sabban, serta Hakan Jarva mengemas semua materi pengembangan kapasitas dengan teknik dan metoda yang menarik. Sebagai ekspertis di bidang CVE, mereka juga tidak segan menceritakan pengalamannya saat berhadapan secara langsung dengan orang-orang yang terpapar radikalisme, teroris, bahkan orang-orang yang terpapar ISIS. Fasilitator juga menyiapkan materi praktis dimana mengutamakan sisi teknis dengan membubuhi sedikit banyak dengan teori. Hari pertama Hedayah menyiapkan 5 sesi materi yang beragam. Pada sesi pertama kita dikenalkan dengan istilah-istilah yang digunakan dalam CVE serta pendalaman dan pemahaman mengenai istilah tersebut. Selanjutnya pada sesi kedua kita diajarkan untuk CVE dengan mempertimbangkan push and pull factors atau faktor pendukung dan penarik orang baik secara makro maupun individu, hingga terlibat dalam jaringan ekstrimis kekerasan. Di sesi ketiga Hedayah mengajak pekerja sosial dan psikolog untuk mempelajari sejarah kelompok-kelompok ekstrimis di Indonesia, sementara di sesi keempat dan kelima Hedayah menyiapkan pemahaman materi mengenai unit keluarga dan peran perempuan. Secara jelas tim Hedayah menerangkan diselingi dengan pemahaman materi melalui studi kasus dan diskusi kelompok.

Pada hari kedua, Hedayah memberikan materi-materi yang lebih mendalam dalam praktek CVE. Sesi keenam kita diajarkan mengenai tantangan-tanganan yang mungkin terjadi saat berhadapan dengan keluarga ekstrimis kekerasan. Kita diajarkan mengenai bagaimana mengatasi trauma dari keluarga setelah mengetahui permasalahan keluarganya yang menjadi ekstrimis kekerasan. Pada sesi ketujuh dan kedelapan, Hedayah membagikan strategi yang baik dalam praktek CVE. Pada kedua sesi ini, dijelaskan secara mendalam melalui studi kasus dan diskusi pengalaman yang telah dilakukan. Sementara pada sesi kesepuluh dan sebelas, kita diajarkan untuk membangun kepercayaan dan teknik serta metoda dalam wawancara dan kajian kebutuhan. Kita diajarkan untuk dapat melakukan risk assesment (asesmen resiko) dan needs assessment (asesmen kebutuhan) dari para ekstrimis kekerasan. Kita didorong untuk lebih peka serta lebih dalam melihat hal-hal yang mungkin akan memberikan input dan informasi saat melakukan intervensi.

image_pdfimage_print

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *