Respon Kasus Anak Disabilitas di Sukabumi, Kementerian Sosial RI Berikan Bantuan Pemenuhan Nutrisi

SUKABUMI, (21 November 2020) – Kementerian Sosial RI melalui Balai Anak “Handayani” di Jakarta menerima informasi dari Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) Sukabumi yang menyatakan bahwa terdapat 10 anak-anak disabilitas yang terdampak Covid-19. Informasi tersebut disampaikan melalui pesan pada aplikasi Whatsapp Balai dengan nomor +6285894108978.

Pekerja Sosial langsung mendatangi 10 rumah anak tersebut dan melakukan asesmen. Berdasarkan hasil asesmen, diketahui bahwa 7 anak mengalami kondisi bed ridden atau yang lebih dikenal dengan kondisi lumpuh layu, 1 anak mengalami kondisi autisme, 1 anak tuna rungu, dan 1 anak lagi memiliki kondisi disabilitas dikarenakan riwayat kejang saat usia balita. Seluruhnya, berasal dari keluarga pra sejahtera dimana orang tua hanya bekerja sebagai buruh harian lepas bahkan tidak bekerja atau telah dirumahkan karena kondisi Covid-19. Hal tersebut yang seringkali membuat orang tua kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan hidup anak dan keluarganya sehari-hari.

Diantara 10 anak tersebut, terdapat satu anak “AD” yang berusia 11 tahun dan memiliki potensi yang luar biasa. “AD” memiliki cita-cita ingin menjadi Hafiz Al-Qur’an (penghafal Al-Qur’an). Saat ini “AD” sudah mampu menghafal 2 _juz. Hal ini didukung oleh Ibunya yang setiap hari membantu “AD” menghafal Al-Qur’an. “Setiap hari saya gendong, saya antar dan jemput ke sekolah agamanya. Gapapa yang penting anak saya bisa meraih cita-citanya, saya juga sering bantu sedikit-sedikit biar anak saya cepet hafal,” ujar Ibu “AD”.

Selain “AD”, terdapat anak lainnya, “HZ” yang berusia 5 tahun. Saat ini, “HZ” masih terus menunjukkan perkembangan yang baik walaupun dalam kondisi tuna rungu. Sayangnya, alat bantu dengar milik “HZ” saat ini sudah rusak sehingga “HZ” benar- benar kesulitan dalam mendengar. Selain “AD” dan “HZ”, 8 anak disabilitas lainnya masih banyak yang memiliki potensi yang luar biasa dan semangat untuk memperoleh pendidikan formal.

Dalam kesempatan ini, Pekerja Sosial juga memberikan penguatan dan edukasi dalam pendampingan anak. Selanjutnya, Balai Anak “Handayani” memberikan pemenuhan kebutuhan nutrisi dan gizi bagi 10 anak tersebut. Kebutuhan nutrisi dan gizi yang diberikan antara lain: beras, susu , vitamin, alat-alat bersih diri khusus pencegahan Covid-19, biskuit, hingga buah-buahan.

Tak hanya sampai disini, Balai Anak “Handayani” akan berkoordinasi dengan Direktorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Kementerian Sosial, untuk dapat
memfasilitasi kursi roda, alat bantu, atau alat lain yang diperlukan oleh 10 anak tersebut.

Penulis: Sri Musfiah

WhatsApp Image 2020-11-21 at 20.01.17

WhatsApp Image 2020-11-21 at 20.01.17 (1)

WhatsApp Image 2020-11-21 at 20.01.17 (2)


Previous
Next




Balai Anak Handayani Bersama LPAI Peringati Hari Anak Sedunia

JAKARTA (20 November 2020) – 20 November merupakan tanggal yang bersejarah bagi anak-anak di dunia. Karena pada tahun 1959, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengesahkan Deklarasi Hak Anak untuk mempromosikan hak-hak anak. Tiga puluh tahun kemudian, tepat pada tanggal 20 November 1989, Konvensi Hak-Hak Anak ( United Nations Convention on the rights of the child) dideklarasikan. Dua peristiwa penting itulah yang melatarbelakangi 20 November diperingati sebagai Hari Anak Sedunia atau World Children’s Day.

Untuk memperingati peristiwa bersejarah itu, Balai Anak Handayani bersama Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) menyelenggarakan kegiatan bertajuk TATAKA yang merupakan akronim dari “Tanda Cinta Untuk Anak”. Selain itu, kegiatan ini juga untuk memperingati 30 tahun Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hak Anak.

Sementara itu, Ketua LPAI, Seto Mulyadi hadir ditengah anak-anak penerima manfaat didampingi oleh Sekjen LPAI Heni Adi Hermanu.

“Adik-adik jangan pernah merasa gagal dalam kehidupan, teruslah berusaha dan berlatih untuk meraih cita-cita,” ujar aktivis anak yang kerap dipanggil Kak Seto ini.

Selain memberikan motivasi, Kak Seto bersama Kak Heni mengajak anak untuk bergembira. Menurutnya, gembira memiliki arti, yaitu gerak, emosi yang sehat, makan makanan yang sehat, berdoa, istirahat yang cukup, rukun penuh persahabatan, dan aktif belajar, bekerja, dan berkarya.

Kak Seto menekankan bahwa LPAI berserta Kemensos akan selalu siap menerima masukan atau pun konsultasi dari anak. “Adik-adik boleh bersedih, boleh juga merasakan emosi yang beragam, boleh juga berpendapat. Tapi tidak boleh dipendam sendiri. Kami dari LPAI dan juga bapak ibu yang ada di balai akan selalu siap membantu adik-adik,” kata Kak Seto.

Pada kesempatan ini, turut hadir Presiden Junior Chamber International (JCI) asal Indonesia, Alexander Tio. JCI adalah organisasi kepemudaan non-politik terbesar di dunia yang berafiliasi dengan PBB. Kak Seto mengajak JCI turut serta agar memberikan motivasi dan semangat kepada anak-anak.

“Untuk menjadi sukses, kita harus mulai dari diri kita sendiri, percaya diri, dan bersyukur. Yang terpenting adalah mencintai dan menerima diri sendiri,” tutur Alexander.

Sementara itu, pada tahun 2020 ini, Hari Anak Sedunia mengambil tema “ A day to reimagine a better future for every child ” atau “Satu hari untuk menata kembali masa depan yang lebih baik untuk setiap anak.”

Adapun kegiatan berlangsung dipenuhi dengan antusias anak-anak yang terhibur oleh pertunjukkan sulap dan pembagian doorprize.

Terakhir, LPAI dan Balai Anak Handayani sepakat agar kerjasama diantara kedua belah pihak dapat terus ditingkatkan. Terutama dalam pemenuhan hak anak dan perlindungan anak.

Penulis : Rizka Surya Ananda

WhatsApp Image 2020-11-20 at 11.34.45

WhatsApp Image 2020-11-20 at 11.34.46

WhatsApp Image 2020-11-20 at 18.19.10

WhatsApp Image 2020-11-20 at 18.19.09 (1)

WhatsApp Image 2020-11-20 at 18.19.08

WhatsApp Image 2020-11-20 at 11.34.46 (1)


Previous
Next




Kementerian Sosial Lakukan Respon Kasus Anak-Anak Disabilitas Terdampak Covid-19 di Jakarta

JAKARTA, (13 November 2020) – Kementerian Sosial melalui Balai Anak “Handayani” di Jakarta beberapa waktu yang lalu menerima laporan kasus mengenai 8 anak disabilitas yang terdampak Covid-19. 8 anak disabilitas ini merupakan binaan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Yayasan Rumah Kita. Laporan ini berasal dari Ketua LKSA Yayasan Rumah Kita, Herman Nugraha yang melaporkan bahwa 8 anak disabilitas ini terdampak Covid-19 dikarenakan kondisi orang tua atau keluarganya yang harus dirumahkan atau dikeluarkan dari kantornya bahkan tidak memiliki pekerjaan sehingga terkendala dalam pemenuhan kebutuhan anak sehari-hari.

Merespon laporan tersebut, Kepala Balai Anak “Handayani”, Neni Riawati segera memberikan tugas dan arahan kepada tim respon kasus Balai Anak “Handayani” untuk segera menelusuri kasus anak-anak tersebut. “Segera digali, ditelusuri, lakukan asesmen serta penuhi kebutuhan 8 anak tersebut”, kata Neni

Tim respon kasus segera melakukan penelusuran ke rumah 8 anak tersebut. Setelah dilakukan asesmen diketahui bahwa terdapat 4 anak yang mengalami disabilitas intelektual, 2 anak disabilitas fisik, dan 2 anak mengalami disabilitas ganda. Seluruhnya mengalami kesulitan dalam pemenuhan nutrisi dan gizi karena kondisi orang tua atau keluarganya yang berada di bawah garis kemiskinan.

Akhirnya, setelah diketahui kondisi dan kebutuhan anak, Balai Anak “Handayani” memberikan bantuan pemenuhan kebutuhan nutrisi dan gizi bagi seluruh anak. Bantuan tersebut terdiri dari bahan makanan pokok, susu, vitamin, biskuit, hingga handsanitizer, dan masker. Selanjutnya, Balai Anak “Handayani” akan terus melakukan pemantauan kepada 8 anak melalui LKSA Yayasan Rumah Kita.

Penulis: Tirani Larasati

Editor: Humas Ditjen Rehsos

WhatsApp Image 2020-11-13 at 17.31.32 (1)

WhatsApp Image 2020-11-13 at 17.31.32 (2)

WhatsApp Image 2020-11-13 at 17.31.32 (3)


Previous
Next




Anak Terlantar di Bawah Jembatan Dirujuk ke Balai Anak Handayani

JAKARTA, (12 NOVEMBER 2020)— Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta akhirnya merujuk salah satu dari tiga anak terlantar di bawah Jembatan Pasar Pagi Tambora ke Balai Anak Handayani di Jakarta.

Diberitakan sebelumnya, tiga anak terlantar ditemukan di bawah jembatan oleh petugas PPSU DKI Jakarta, salah satunya dalam keadaan menangis. Ketiga anak tersebut kemudian diamankan di GOR Cengkareng Jakarta Barat untuk diberikan perlindungan.

Merespon hal tersebut, Kementerian Sosial sebelumnya telah menugaskan Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) Jakarta Barat untuk melakukan asesmen kepada ketiga anak tersebut. Selanjutnya Balai Anak Handayani ditugaskan untuk menindaklanjuti hasil asesmen tersebut.

“Pekerja Sosial kami sudah ke GOR Cengkareng. Memang ada tiga anak yang ditemukan terlantar, dua anak laki-laki dan satu anak perempuan. Anak laki-laki usianya 10 dan 7 tahun, sedangkan yang perempuan usianya 5 tahun. Yang usianya 7 dan 5 tahun itu kakak adik,” jelas Kepala Balai Anak Handayani, Neni Riawati.

Orang tua dua anak yang merupakan saudara kandung telah ditemukan dan telah kembali ke keluarga, sedangkan satu anak tidak diketahui keberadaan keluarganya. Atas dasar hal tersebut, menurut Neni, satu anak akhirnya diputuskan untuk dirujuk ke balai.

“Jadi satu anak memang sudah lama tinggal di jalanan dan tidak tau dimana keluarganya. Sambil mencari orang tuanya, kami sepakat dengan pihak Dinas Sosial dan pihak terkait agar anak dirujuk ke balai untuk sementara, ” tambahnya.

Anak dirujuk langsung oleh Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta yang diwakili oleh Ani Nasariani ke Balai Anak handayani. Selanjutnya, Neni mengatakan bahwa balai akan memberikan rehabilitasi sosial dan melakukan penelusuran terhadap orang tua anak.

Neni juga menyampaikan pihaknya akan tetap melakukan pemantauan kepada dua anak yang telah dikembalikan ke keluarga karena kemungkinan ada dugaan eksploitasi yang menimpa ketiga anak tersebut.

“Kami belum bisa memastikan adanya eksploitasi tapi memang ada indikasi ke arah situ. Anak mengaku mereka disuruh mengamen dan berjualan di jalan. Mengaku dapat kekerasan juga. Namun kami masih butuh asesmen lanjutan untuk mendalaminya,” pungkas Neni.

Penulis : Rizka Surya Ananda




Kementerian Sosial Selenggarakan Family Support bagi Anak-Anak Korban Pelecehan Seksual di Bogor

BOGOR, (10 November 2020)- Kementerian Sosial melalui Balai Anak “Handayani” di Jakarta menyelenggarakan kegiatan family support merespon laporan mengenai kasus pelecehan seksual dan kekerasan yang menimpa 20 anak di Bogor. Laporan tersebut berasal dari Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) yang menjelaskan mengenai beberapa kasus pelecehan yang dilakukan oleh ayah kandung, kasus pelecehan oleh kakeknya, kasus pelecehan oleh pacarnya dan kekerasan oleh orang tua.

Laporan tersebut segera ditindaklanjuti oleh Balai Anak “Handayani” dengan arahan Kepala Balai Rehabilitasi Sosial Anak, Neni Riawati. “Menyedihkan sekali mengetahui banyak anak yang menjadi korban pelecehan dan kekerasan seksual di Bogor, kita harus berikan penguatan serta lakukan asesmen untuk mengetahui apa saja kebutuhannya”, kata Neni

Kegiatan family support dilakukan dengan tujuan untuk memberikan penguatan serta pemahaman kepada orang tua berkaitan dengan pendidikan seksual dan pola asuh bagi anak. Semantara bagi anak, tujuannya adalah untuk kembali membangun kepercayaan diri anak serta meningkatkan motivasi anak untuk tetap dapat menjalankan aktifitasnya secara normal.

Bagi orang tua diberikan materi mengenai psikoedukasi dan parenting skill agar orang tua lebih memahami pola pengasuhan terbaik bagi anak dengan judul materi “Membangun Komunikasi (curhat)dalam Keluarga”. Sementara anak-anak diberikan materi melalui permainan dan dinamika kelompok. Anak diajari juga untuk mengenali anggota tubuhnya sendiri, bagian mana saja yang tidak boleh dilihat dan disentuh oleh orang lain serta terapi bermain. Kemudian kegiatan diakhiri dengan pemberian pemenuhanan nutrisi dan gizi anak disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak.

Penulis: Euis Heni

Editor: Humas BRSAMPK “Handayani” Jakarta

WhatsApp Image 2020-11-11 at 21.18.39

WhatsApp Image 2020-11-11 at 21.18.39 (1)

WhatsApp Image 2020-11-11 at 21.18.39 (2)

WhatsApp Image 2020-11-11 at 21.18.40

WhatsApp Image 2020-11-11 at 21.18.40 (1)

WhatsApp Image 2020-11-11 at 21.18.41

WhatsApp Image 2020-11-11 at 21.18.41 (1)


Previous
Next




Balai Anak Handayani Gelar Pisah Sambut dan Pelepasan Pegawai yang Promosi, Mutasi dan Purna Tugas

JAKARTA, 6 NOVEMBER 2020 – ” Kalau ada sumur di ladang, boleh lah kita menumpang mandi, kalau ada umur yang panjang, boleh lah kita berjumpa lagi.”

Bait pantun di atas dilontarkan saat acara pisah sambut antara Kepala Balai yang lama Neneng Heryani dan Kepala Balai yang baru Neni Riawati. Pada acara ini juga, dilaksanakan pelepasan pegawai yang promosi, mutasi, dan purna tugas yang digelar di ruang rapat Balai Anak Handayani di Jakarta.

Kepala Balai yang baru, Neni Riawati dalam sambutan nya menyatakan Insya Allah siap melanjutkan keberhasilan yang telah dicapai oleh Balai Anak Handayani selama berada di bawah kepemimpinan Neneng Heryani, “Saya melihat bagaimana prestasi Balai Anak Handayani selama ini, dan saya mengapresiasi apa yang telah dilakukan Bu Neneng selama menjabat,” ucap Neni.

“Pucuk pimpinan boleh berganti, namun kekuatan tim yang hebat akan tetap melanjutkan komitmennya. Tidak ada Super man , yang ada adalah Super Team yang solid dan berkomitmen untuk terus bekerja demi melayani kepentingan terbaik bagi anak ,” sambung Neni yang disambut tepuk tangan oleh pegawai yang hadir.

Sementara itu, Kepala Balai Anak yang lama, Neneng Heryani dalam penyampaian memori jabatannya megucapkan terima kasih kepada pegawai yang selama ini telah mendukung setiap pekerjaan.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah bersama saya selama ini. Enam tahun bukan lah waktu yang singkat dan saya merasa bahwa Handayani telah menjadi bagian dari hidup saya,” kata Neneng.

Neneng mengatakan bahwa meskipun ia telah pindah tugas, namun silaturahmi akan tetap terjaga. “Saya menolak menyebut ini perpisahan, namun ini adalah silaturahmi. Saya berharap kita masih bisa terus bersilaturahmi,” sambung Neneng.

Selanjutnya pada kegiatan ini juga dilakukan pemutaran video pesan dan kesan dari pegawai untuk kepala balai yang lama. Suasana kemudian menjadi haru saat dokumentasi kebersamaan ditampilkan di dalam video.

Selain pegawai, penerima manfaat juga turut mempersembahkan puisi dan kenang-kenangan yang dibuat sendiri oleh mereka.

Adapun acara ini turut hadir Kepala Bagian Umum Sekretariat Ditjen Rehsos, Sunarto, Mitra kerja balai, dan Dharma Wanita Balai Anak Handayani.

Humas Balai Anak Handayani di Jakarta
Penulis : Rizka Surya Ananda

 




“NF” Lahirkan Bayi Perempuan, Kementerian Sosial Dampingi Proses Persalinan

JAKARTA, (31 Oktober 2020) — Kementerian Sosial melalui Balai Anak “Handayani” hingga saat ini masih terus memberikan Asistensi Rehabilitasi Sosial (Atensi) berbasis Residensial di dalam Balai bagi “NF”. Beberapa bulan terakhir, “NF” didampingi oleh Pekerja Sosial dan petugas Balai Anak “Handayani” lainnya telah menyelesaikan proses persidangan secara online karena pandemi Covid-19. Atas kasus menghilangkan nyawa seorang balita di daerah Sawah Besar, Jakarta Pusat (03/2020), Hakim menyatakan bahwa “NF” terbukti bersalah dan menjatuhkan vonis selama 2 tahun dengan menjalankan rehabilitasi sosial di Balai Anak “Handayani”.

Beralih dari permasalahan hukum yang dijalani oleh “NF”, pada pukul 11.45 WIB “NF” telah melahirkan seorang putri dengan proses operasi caesar. “NF” melahirkan putri dalam kondisi sehat dan normal dengan berat 3 kg dan tinggi 48 cm. Langkah operasi dilakukan karena karna beberapa faktor, seperti kehamilan sungsang, usia “NF” yang masih sangat muda, kondisi mata yang minus dan silindiris, dan ukuran panggul yang kecil sehingga beresiko tinggi untuk melahirkan secara normal.

Saat ini, “NF” dalam kondisi sehat namun masih dalam proses perawatan dan pemulihan pasca operasi. Pekerja Sosial, Perawat, serta orang tua terus mendampingi “NF” selama berada di Rumah Sakit (RS). Kepala Balai Anak “Handayani”, Neni Riawati pun datang ke RS untuk memantau secara langsung kondisi “NF” beserta anaknya. “Alhamdulillah, “NF” dan anaknya dalam kondisi sehat. Kita akan terus mendampingi dan memastikan terpenuhinya segala kebutuhan “NF” dan anaknya,” kata Neni

Setelah sembuh, “NF” akan segera mengikuti kegiatan belajar mengajar pada bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) di sebuah sekolah swasta di bilangan Jakarta Timur. Selama proses kegiatan belajar mengajar tersebut, pendampingan dan pengawasan dari Balai Anak “Handayani” akan tetap dilakukan mengingat “NF” masih akan terus melanjutkan proses Atensi berbasis Residensial di Balai Anak “Handayani” hingga masa putusan selesai.

Selanjutnya, anak “NF” akan dirawat secara langsung oleh “NF” di Balai Anak “Handayani” dengan bantuan petugas lainnya. Untuk memastikan dan menentukan kepengasuhan terbaik bagi anak “NF”, akan dilakukan Case Conference dengan pihak-pihak terkait satu bulan mendatang atau pada waktu yang ditentukan kemudian.

Penulis: Tirani Larasati

Editor: Humas Ditjen Rehsos

WhatsApp Image 2020-11-01 at 08.25.27

WhatsApp Image 2020-11-01 at 08.25.27 (2)


Previous
Next




Kementerian Sosial Lakukan Respon Kasus Anak Dalam Situasi Darurat di Cianjur

CIANJUR, (24 Oktober 2020)- Kementerian Sosial melalui Balai Anak “Handayani” Jakarta kembali mendapatkan informasi mengenai anak dalam situasi darurat di Cianjur, Jawa Barat. Kali ini, informasi diperoleh dari Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak. Dalam informasi tersebut diketahui bahwa terdapat dua anak “NM” dan “RK” yang tinggal didalam sebuah gubuk yang tidak layak huni.

Merespon informasi tersebut, Kepala Balai Anak “Handayani”, Neni Riawati memberikan arahan dan tugas kepada Pekerja Sosial untuk segera melakukan penelusuran sesuai SOP, melakukan asesmen dan analisa kebutuhan anak.

Pekerja Sosial Balai Anak “Handayani” segera menuju ke alamat rumah anak untuk segera merespon kasus tersebut. Didampingi oleh Kasi Kesra, Rahmat, Poldes, Ahmad Zaenuman, serta pihak Kepolisian, dan TNI, Pekerja Sosial pada akhirnya dapat menemui kedua anak tersebut. Berdasarkan hasil asesmen, diketahui bahwa “NM” dan “RK” tinggal bersama kedua orangtuanya di gubuk yang dibuat sendiri oleh ayahnya dari terpal bekas spanduk dan kain yang sudah tidak terpakai yang merupakan pemberian dari warga sekitar. “NM” dan “RK” berusia 4 tahun dan 4,5 bulan. Mereka sebenarnya bukan warga asli setempat dan tinggal di tanah milik perhutani. Ayah kedua anak tersebut tidak bekerja dan hanya mengandalkan kemampuan bercocok tanam dengan alasan tidak bisa bekerja. Ia menderita sakit asam urat dan lambung sehingga yang mencari nafkah adalah Ibunya dengan berjualan sayuran milik warga dengan hasil dibagi dua.

Setiap hari kedua anak tersebut ikut berjualan bersama Ibunya dan tidak mau ditinggalkan bersama Ayahnya. Untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, mereka hanya mengandalkan penghasilan dari Ibunya dan belas kasihan warga sekitar. Pandemi Covid-19 ini juga membuat orangtua “NM” dan “RK” semakin kesulitan untuk mencari nafkah. Orangtua kedua anak tersebut saat ini belum mempunyai kartu keluarga, akte kelahiran dan tidak mempunyai surat nikah. Sakti peksos sudah melakukan koordinasi dengan pihak desa setempat untuk pengurusan kependudukannya dan saat ini masih dalam proses pembuatan. “NM” dan “RK” hingga saat ini belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah dikarenakan tidak tercatat pada berkas kependudukan.

Ketika dilakukan penggalian kepada ibu “NM” dan “RK”, diketahui bahwa Ibunya pernah mendapat perlakuan kekerasan dari suaminya, namun saat ini sudah tidak melakukan kekerasan karena sudah dilakukan pengawasan oleh pihak terkait ke rumahnya. “NM” dan “RK” tidak pernah bermain bersama teman-teman sebayanya karena selalu mengikuti Ibunya yang berjualan.

“NM” dan “RK” diberikan bantuan pemenuhan gizi dan nutrisi berupa susu, vitamin, biskuit, makanan pendukung lainnya, tempat tidur busa, bantal dan guling. Selanjutnya akan dilakukan monitoring berkala kepada anak tersebut. Balai Anak “Handayani” juga telah berkoordinasi dengan Sakti Peksos dan Dinas Sosial setempat untuk bersama melalukan perlindungan dan pendampingan bagi kedua anak.

Penulis: Tuti Nurhayati

Editor: Humas Ditjen Rehsos




Kunker ke Balai Anak Handayani, DPRD Jawa Barat Konsultasi Pembuatan Kebijakan Perlindungan Anak

JAKARTA (26 OKTOBER 2020) – Balai Anak Handayani pada senin (26/10) menerima kunjungan kerja 23 Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat yang merupakan anggota Panitia khusus (Pansus) Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Penyelenggaraan Perlindungan Anak. Kunker yang dipimpin oleh Ketua Pansus Sri Rahayu ini bertujuan untuk meminta data dan informasi terkait dengan pembahasan rancangan perda yang sedang dikerjakan.

“Kedatangan kami di sini untuk meminta informasi mengenai proses penanganan anak di Balai Anak Handayani. Selain itu, kami membutuhkan masukan dari Balai untuk penyempurnaan rancangan perda yang sedang kami kerjakan, ” jelas Sri dalam sambutannya.

Senada dengan Ketua Pansus, Kepala Dinas Pemberdayan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jawa Barat, Poppy Shopia Bakur, yang ikut mendampingi rombongan menyampaikan harapannya agar Balai Anak Handayani bisa melengkapi poin-poin penting yang akan dimasukkan ke dalam Raperda nantinya.

“Data menunjukkan bahwa 35% dari jumlah penduduk Jawa Barat adalah anak, sehingga penting bagi kami sebagai pemerintah provinsi Jawa Barat agar ada landasan dalam melaksanakan program, dan Raperda ini merupakan inisiatif dari pemerintah. Jadi kami berharap Balai dapat memberikan masukan terutama dari sisi rehabilitasi dan pencegahan,” terang Poppy.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Balai Anak Handayani, Neni Riawati menyambut baik upaya Pemerintah Jawa Barat dalam merancang perda khusus untuk perlindungan anak. Menurut Neni, perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama sehingga pemerintah pusat dan daerah harus bersinergi dalam upaya penanganan anak.

“Kami sangat mendukung upaya Pemerintah Jabar, dan sudah menjadi tugas kami memberikan dukungan dalam penyusunan regulasi. Karena nantinya regulasi tersebut akan mempermudah kami dalam pelaksanaan ATENSI yang saat ini menjadi program unggulan kami,” ujar Neni.

Neni berharap Raperda bisa mengakomodir program-program ATENSI seperti penanganan rehabilitasi berbasi residensial, keluarga, dan komunitas.

Menurut Neni, sinergitas antara pemerintah pusat dan Pemda sangat penting, terutama dalam proses reintegrasi. “Setelah menerima rehabilitasi, anak akan kembali ke masyarakat, dan tentu setelah di keluarga, tanggung jawab berpindah ke pemerintah daerah,” ujar Neni mencontohkan.

Selain membahas tentang poin pencegahan, rehabilitasi, dan reintegasi, kunker juga membahas peran dan posisi media dalam penyebaran informasi yang mempengaruhi upaya penanganan anak. Terakhir, pansus sepakat menyerahkan draft Rakerda Penyelenggaraan Perlindungan Anak untuk ditelaah oleh pihak balai.

Penulis: Rizka Surya Ananda

WhatsApp Image 2020-10-26 at 17.44.10

WhatsApp Image 2020-10-26 at 17.44.10 (1)


Previous
Next




Polisi Libatkan Kementerian Sosial dalam Penyelesaian Kasus “Anak-Anak Demo UU Cipta Kerja”

JAKARTA, (21 Oktober 2020) – Pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) beberapa waktu lalu menuai pro dan kontra dari masyarakat Indonesia. Sebagai dampak, terjadi demo hampir di seluruh wilayah Indonesia. Sayangnya, mayoritas pendemo merupakan para pelajar. Polisi menangkap sekitar seribu lebih pelajar yang terlibat dalam aksi demo, namun hanya beberapa yang pada akhirnya dinyatakan bersalah karena melakukan tindak anarkis terutama tindak melawan petugas dan sisanya telah dikembalikan kepada orang tuanya masing-masing.

Kementerian Sosial melalui Balai Anak “Handayani” Jakarta diundang oleh Polres Jakarta Barat untuk terlibat dalam proses advokasi sosial melalui diversi. Terdapat tiga anak pelaku yang terlibat dalam aksi demo UU Cipta Kerja. Demo tersebut dilakukan di sekitar jalan Gaja Mada Jakarta Barat.

Merespon hal tersebut, Direktur Rehabilitasi Sosial Anak, Kanya Eka Santi
memberikan arahan kepada Pekerja Sosial untuk membantu menyelesaikan perkara ketiga anak tersebut melalui proses diversi. Diversi merupakan upaya penyelesaian masalah Anak Berhadapan Dengan Hukum (ABH) di luar proses persidangan, sehingga pemenjaraan terhadap ABH merupakan pilihan terakhir sebagai penyelesaian kasus ABH.

“Ini perkara penting, anak-anak yang terlibat demo mayoritas merupakan anak sekolah, pendidikan dan kepentingan terbaik anak harus menjadi salah satu pertimbangan sehingga diversi bisa berhasil”, pesan Kanya

Setelah itu, Pekerja Sosial segera menghadiri proses diversi yang dilaksanakan di Polres Jakarta Barat. Sebelum dilaksanakan diversi, Pekerja Sosial melakukan rapid asesmen untuk membuat bahan pertimbangan putusan diversi. Berdasarkan hasil asesmen, diperoleh informasi bahwa ketiga anak tertarik mengikuti aksi demo karena ajakan teman, dua anak diajak saat oleh teman satu tongkrongan, sementara satu anak diajak melalui chat yang ada di dalam grup aplikasi pesan miliknya. Ketiganya diketahui terlibat pelemparan terhadap polisi.

Pelaksanaan diversi dihadiri oleh Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (Kanit PPA), penyidik, polisi yang menjadi korban, Pembimbing Kemasyaratan Balai Pemasyarakatan (PK BAPAS), kuasa hukum anak, keluarga anak, dan Pekerja Sosial Balai Anak “Handayani”.

Proses diversi yang dipimpin oleh Kanit PPA dapat berjalan lancar walaupun memerlukan pembahasan yang cukup panjang. Setelah cukup panjang bermusyawarah, diversi dinyatakan berhasil dengan kesepakatan yaitu: (1) Satu anak diwajibkan melakukan pelayanan sosial sebagai anggota Pekerja Penanganan Sarana dan Prasarana Umum (PPSU) Kelurahan Keagungan Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat dimana anak tinggal. Pelayanan sosial dilaksanakan selama 3 bulan 3 kali perminggu dengan pengawasan intensif, (2) satu anak diwajibkam membersihkan musholla selama 1 bulan setiap sore hari dengan pengawasan intensif, dan (3) anak menjalani program rehabilitasi sosial di Balai Anak “Handayani” selama tiga bulan dengan pengawasan intensif oleh PK BAPAS.

Proses penindakan anak-anak yang terlibat aksi demo UU Cipta Kerja oleh polisi ini, tidak berhenti sampai disini. Seperti yang telah diketahui bahwa jumlah anak dalam aksi demo ini sangat banyak. Kementerian Sosial melalui Balai Anak “Handayani” memastikan keterlibatan penanganan permasalahan ini secara konsisten dan berkelanjutan. Selanjutnya, akan dilaksanakan beberapa proses diversi di beberapa Polres yang wilayahnya menjadi titik pelaksanaan aksi demo, termasuk di Polda Metro Jaya.

Penulis: Sri Musfiah

Editor: Humas BRSAMPK “Handayani” Jakarta