Bela Hak Anak di Tengah Pandemi Covid-19: Balai Anak “Handayani” Lanjutkan Proses Pendampingan dan Advokasi Sosial “NF”

JAKARTA (08 Mei 2020) – Setelah sebelumnya, tim Balai Rehabilitasi Sosial Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus “Handayani” di Jakarta menerima rujukan kasus “NF” dari Polres Metro Jakarta Pusat, kemudian melakukan pendalaman kasus dengan berkoordinasi dengan banyak ahli. Kini, proses pendampingan remaja “NF” sampailah pada proses hukum di tahap II.

Tahap II merupakan proses pelimpahan kasus dari pihak penyidik pada tingkat Kepolisian kepada penuntut umum pada tingkat Kejaksaan. Hal tersebut menandakan bahwa penyidik telah melengkapi semua berkas perkara yang diperlukan guna kelanjutan proses hukum “NF”. Tahap II ini dilaksanakan di Ruang Rapat Balai Anak “Handayani” di Jakarta atas permohonan peminjaman ruangan oleh pihak Polres Metro Jakarta Pusat kepada Balai Anak “Handayani” di Jakarta. Pelaksanaannya pada hari Jumat tanggal 8 Mei 2020 dimulai dari pukul 15.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB.

Pada kasus “NF” ini, walaupun ia masih dalam usia anak, tidak dapat dilakukan proses diversi atau penyelesaian masalah diluar proses Peradilan. Merujuk pada Undang-Undang No. 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA), pasal 7 ayat 2 yang menyebutkan bawha proses diversi dapat dilakukan dalam 2 syarat yaitu: diancam dengan pidana penjara di bawah 7 (tujuh) tahun dan bukan pengulangan tindak pidana. Sayangnya, pada kasus “NF” dikenakan masa tuntutan perkara diatas 7 (tujuh) tahun, sehingga tidak masuk dalam syarat pelaksanaan diversi.

Berdasarkan hal tersebut, Kepala Balai Anak “Handayani”di Jakarta, Neneng Heryani menugaskan para pelaksana rehabilitasi sosial untuk melakukan pendampingan dan advokasi sosial terhadap “NF”.

“Kasus “NF” harus mendapatkan perhatian lebih, mengingat ia tetap seorang anak remaja yang harus tetap mendapatkan hak-haknya. Pendampingan dan advokasi sosial ini difokuskan untuk melakukan pembelaan seraya memberikan dukungan bagi “NF” dalam rangka kepentingan terbaik bagi anak”, ujar Neneng dalam arahannya.

Menindaklanjuti arahan Kepala Balai, pada proses ini “NF” didampingi oleh Pekerja Sosial, Pembimbing Kemasyarakatan Balai Pemasyarakatan (PK Bapas), dan penasehat hukum. Jaksa Anak yang menangani kasus “NF” mengawali perkenalannya dengan cara yang ramah anak dan sangat hangat. “NF” diminta menceritakan kembali kronologis kasusnya dengan diselingi pertanyaan dari Jaksa untuk memastikan seluruh berkas perkara yang dikumpulkan oleh penyidik valid. Dalam tahap ini Pekerja Sosial memberikan dukungan dan penguatan kepada “NF” mengingat kasus ini bukanlah hal yang mudah untuk ia ceritakan kembali.

Selama proses tahap II ini, “NF” terlihat tenang dan dapat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Jaksa dengan lancar. Jaksa meminta “NF” untuk tidak tegang dan tetap tenang dalam melewati proses ini. Tak lupa, Jaksa juga menanyakan apa saja yang menjadi harapan “NF” di masa depan. Nampak raut kesedihan dan penyesalan yang teramat dalam dari “NF”. Selama berada di Bala Anak “Handayani” di Jakarta,”NF” merasa aman dan nyaman. Ia mengungkapkan ingin berubah menjadi anak yang lebih baik, meninggalkan semua perilaku buruknya dan ingin menggapai cita-citanya.

Proses tahap II ini dapat berjalan dengan lancar dan tidak mengalami kendala apapun. Selanjutnya, Jaksa masih menitipkan ” NF” di Balai Anak “Handayani” untuk melanjutkan segala proses terapi psikososial yang diberikan oleh Pekerja Sosial, Psikolog, dan profesi lainnya sambil menunggu proses hukum selanjutnya bagi “NF”.

Penulis: Vivi Marlina
Editor: Humas Ditjen Rehsos

image_pdfimage_print

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *