Balai Anak “Handayani” Lakukan Respon Kasus Anak Korban Eksploitasi Seksual oleh WNA Perancis

JAKARTA, (17 Juli 2020) — Minggu lalu (10/07/2020), Polda Metro Jaya menangkap tersangka WNA Perancis yang melakukan eksploitasi seksual kepada 305 anak. Merespon kasus tersebut, Kepala Balai Rehabilitasi Sosial Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) “Handayani” Jakarta, Neneng Heryani memberikan arahan kepada pekerja sosial dan psikolog untuk segera melakukan asesmen terkait kondisi para korban.

“Kasus ini harus segera direspon, mengingat banyak anak yang menjadi korban. Sementara segera lakukan asesmen bagi 15 anak yang telah didapatkan informasinya dari pihak Polisi. Pastikan hak dan kebutuhan mereka terpenuhi”, kata Neneng

Berbekal informasi dari pihak Kepolisian, tim Balai Anak “Handayani” melakukan penelusuran terhadap 15 anak yang telah diidentifikasi sebelumnya oleh pihak Kepolisian. Namun sayangnya, terdapat empat anak yang tidak ditemukan karena alamat tidak sesuai. Sementara, ada pula satu anak yang sedang berada di luar kota bersama orang tuanya dan satu anak yang sedang bekerja, sehingga asesmen dilakukan kepada orang tuanya.

Sebanyak 9 anak yang dapat ditemui, bersedia untuk menceritakan kejadian yang dialaminya. Selain itu, tim Balai Anak “Handayani” mendapatkan informasi tambahan yang dimana diketahui bahwa masih ada dua anak lainnya yang belum teridentifikasi oleh Pihak Kepolisian.

Setelah dilakukan asesmen, diketahui bahwa anak-anak berada pada usia remaja, bahkan terdapat anak yang masih berstatus siswi di sekolah umum, adapula yang masih mengikuti program kejar paket, dan ada yang sudah tidak bersekolah.

Beberapa anak bercerita bahwa mulanya mereka diajak oleh teman, baik melalui facebook maupun aplikasi whatsapp. Mereka ditawari oleh teman mereka untuk menjadi seorang model yang akan difoto oleh tersangka yang memperkenalkan dirinya sebagai fotografer. Kemudian pemotretan dilakukan di sebuah kamar hotel.

Sesampainya di kamar hotel, mereka diminta untuk memakai pakaian minim, menggunakan riasan, dan aksesoris lainnya yang telah disiapkan oleh tersangka. Setelah itu, mereka diminta melayani nafsu tersangka dan dijanjikan mendapatkan uang lebih besar.

“Saya merasa sangat malu apabila pemberitaan mengenai ini diketahui oleh teman-teman atau tetangga saya”, ujar salah satu anak. Sementara disisi lain, orang tua dari anak-anak tersebut tidak mengetahui kejadian yang dialami oleh anaknya sampai adanya informasi dari Kepolisian.

Mereka berharap dapat melanjutkan kehidupannya seperti sebelumnya. Mereka tidak ingin terbebani dengan banyaknya orang yang menghubungi mereka untuk membahas kasus ini. Mereka ingin dapat kembali bersekolah atau berkerja dengan tenang dan aman.

Selanjutnya sebagai upaya tindak lanjut, terdapat enam anak yang kemungkinan akan mendapatkan bimbingan dan program rehabilitasi sosial di Balai Anak “Handayani” Jakarta. Diketahui enam anak tersebut sudah tidak bersekolah dan belum memiliki aktivitas yang mendukung pengembangan potensi mereka. Balai Anak “Handayani” siap untuk membantu memenuhi hak-hak mereka serta mengembangkan potensi anak sebagai bekal di masa depan. Akan segera dilakukan kesepakatan antara orang tua keenam anak dan pihak Balai Anak “Handayani” apabila keenam orang tua menyetujuinya.

Sementara tiga anak lainnya, karena masih terus melanjutkan pendidikannya di bangku sekolah, maka akan dilakukan pendampingan dan pengawasan secara intensif oleh Sakti Peksos dan Pemerintah Daerah. Balai Anak “Handayani” juga akan melakukan monitoring berkala bagi keempat anak tersebut.

Humas BRSAMPK “Handayani” di Jakarta

Penulis: Fathimatuzzahroh Rahmah Gustiani dan Sri Musfiah

image_pdfimage_print

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *