Balai Anak “Handayani” di Jakarta Respon Laporan Pengaduan Masyarakat Tentang 4 Anak Disabilitas Terdampak Covid-19 di Bandung

BANDUNG (20 Mei 2020) – Masyarakat Indonesia tengah berperang melawan pandemi Covid-19. Hal tersebut tidak melunturkan kepedulian antar sesama. Laporan pengaduan masyarakat kepada Balai Rehabilitasi Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) “Handayani” di Jakarta kembali datang dari kader Pembina Kesejahteraan Keluarga (PKK) wilayah kota Bandung. Dilaporkan bahwa terdapat empat anak disabilitas terdampak Covid-19 yaitu “S”, “D”, “K” dan “F”.

Berdasarkan laporan tersebut, Kepala Balai Anak “Handayani”, Neneng Heryani segera menugaskan tim respon kasus untuk melakukan penelusuran dan asesmen terhadap 4 anak tersebut. “Perhatikan kebutuhan anak dan segera berikan bantuan pemenuhan gizi dan nutrisi kepada empat anak tersebut,” ujar Neneng

Tim respon kasus menuju ke Bandung yang juga merupakan wilayah jangkauan Balai Anak “Handayani” untuk segera merespon kasus tersebut. Didampingi oleh kader PKK wilayah Bandung, Tuti tim respon kasus Balai Anak “Handayani” mendatangi rumah anak satu per satu dan langsung melakukan asesmen.

Diketahui “S” merupakan anak perempuan berusia 15 tahun. Awalnya “S” terlahir normal tanpa hambatan apapun, namun pada saat berusia 4 bulan ia mengalami kejang disertai demam tinggi. Setelah kejadian tersebut, “S” mengalami kemunduran kinerja otak dan mengalami hambatan bergerak. Hingga saat ini, “S” tidak bisa berbicara dan tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya. Ayahnya yang menjadi tulang punggung keluarga saat ini sedang kesulitan mencari pekerjaan. Sebelumnya, ayah “S” bekerja sebagai buruh pabrik. Namun karena pandemi ini, ia harus berhenti bekerja sehingga kebutuhan keluarga tidak dapat terpenuhi dengan baik.

Selanjutnya, “D” merupakan seorang anak laki-laki berusia 17 tahun. Ia mengalami gangguan pada bagian otaknya sejak usia 2 tahun. Diketahui bahwa “D” pernah jatuh dalam pangkuan ayahnya saat kecil. “D” sering mengalami bullying dari anak-anak seusianya, sehingga selama ini ia tidak lagi berani keluar rumah. Ayahnya bekerja sebagai buruh bangunan dan sudah selama dua bulan terakhir mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan keluarga karena tidak memiliki penghasilan pada masa pandemi Covid-19 ini.

“K” merupakan anak perempuan yang baru saja dilahirkan pada November 2019. Sejak dilahirkan “K” tidak memiliki langit-langit pada mulutnya, sehingga ia kesulitan saat bernafas dan saat meminum Air Susu Ibu (ASI). Selain itu, “K” tidak dapat merespon stimulus suara yang diperdengarkan kepadanya maupun benda-benda yang dilihatnya. Disebabkan kondisi tersebut, menurut Dokter harus dilakukan tindakan operasi bagi “K”. Orang tua “K” saat ini tidak bekerja dan kesulitan memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Terakhir adalah “F” seorang anak laki-laki berusia 13 tahun. Ia mengalami hambatan pada kinerja otaknya sehingga menyebabkan keterlambatan dalam berfikir. Keluarga “F” tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil yang cukup sesak untuk ditinggali oleh 4 orang. Saat ini, kondisi ekonomi keluarganya terganggu disebabkan ayahnya tidak bisa bekerja karena tempatnya bekerja ditutup sementara karena masa pandemi ini.

Seluruhnya diberikan bantuan pemenuhan gizi dan nutrisi berupa susu, vitamin, buah-buahan, biskuit, dan makanan pendukung lainnya. Selanjutnya akan dilakukan monitoring berkala kepada empat anak tersebut.

Penulis: Tirani Larasati
Editor: Humas Ditjen Rehsos

image_pdfimage_print

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *