1

Penerima Manfaat Balai Anak Handayani Ikuti Penyuluhan Hukum dari Kejaksaan Agung RI

JAKARTA, (2 JUNI 2021)– Penerima manfaat Balai Anak Handayani mengikuti Penyuluhan Hukum dari Kejaksaan Agung dengan tema Merajut Harapan Meraih Masa Depan, yang diselenggarakan pada Rabu (2/6). Kegiatan diawali dengan swab test kepada tim penyuluhan Kejaksaan Agung dan kegiatan dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan.

Kepala Bidang Penerangan dan Penyuluhan Hukum Kejaksaan Agung, Rugun Saragih mengucapkan terima kasih kepada Balai Anak Handayani atas sambutan hangat kepada tim penyuluh Kejaksaan RI.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak balai yang telah menerima kami dengan baik, dan semoga anak-anak bisa mengikuti kegiatan ini dengan baik, ” kata Rugun saat memberikan sambutan.

Senada dengan Rugun, Kepala Balai Anak Handayani Hasrifah Musa juga mengucapkan terima kasih kepada tim yang telah bersedia memberikan penyuluhan kepada kepada anak-anak. Ia juga berpesan kepada anak-anak agar mengambil manfaat sebanyak-banyak nya dari kegiatan ini.

“Anak-anak agar memperhatikan dan mengikuti kegiatan ini dengan baik, manfaatkan penyuluhan ini dengan sebaik-baiknya dengan mendengarkan informasi dari narasumber,” tutur Hasrifah.

Dalam memberikan penyuluhan, Tim Penyuluhan Kejaksaan Agung bekerja sama dengan pegiat sosial yang juga merupakan advokat Beby Savitri sebagai narasumber. Anak-anak diajak untuk mengenali dirinya sendiri seperti kelebihan, harapan, kemampuan, serta orang-orang yang mereka anggap mampu menginspirasi hidup mereka.

“Penting bagi kita untuk mengenali siapa diri kita sendiri agar kita tau apa yang mampu kita capai untuk masa depan kita,” ujar Beby.

Pada kesempatan ini, anak-anak juga diminta untuk menceritakan keahliannya di hadapan peserta yang hadir. Salah satu peserta, Jeni (bukan nama sebenarnya) mengungkapkan bahwa saat ini ia sedang belajar membuat grafiti pada bahan kaca. Sedangkan peserta lainnya, Lisa (bukan nama sebenarnya) mengaku bahwa ia senang bernyanyi.

Antusiasme anak-anak tidak berhenti sampai di situ. Hal ini dilihat dari banyaknya anak-anak yang bertanya pada sesi tanya jawab.

Pertanyaan anak-anak seputar proses hukum yang memang dekat dengan mereka saat ini. Beberapa pertanyaan yang diajukan di antaranya adalah bagaimana hakim memutuskan suatu perkara, apakah ada pengurangan masa hukuman bagi anak, serta pertanyaan seputar proses hukum lainnya.

Seluruh pertanyaan anak-anak dijawab langsung oleh Jaksa yang hadir sebagai anggota tim. Salah satunya adalah Kepala Sub Bidang Penerangan Hukum, Mumuh Ardiansyah yang merupakan Jaksa Ahli Muda.

“Dasar hakim dalam memutuskan suatu perkara adalah dengan melihat alat bukti yang dapat diuji saat persidangan serta keyakinan hakim,” paparnya saat menjawab pertanyaan anak-anak.

Adapun kegiatan penyuluhan ini dihadiri oleh 30 anak penerima manfaat dan 10 orang pendamping.

Penulis:
Rizka Surya Ananda
Penyuluh Sosial Ahli Pertama




Balai Anak “Handayani” di Jakarta Laksanakan Upacara Peringatan Hari Lahirnya Pancasila

JAKARTA, (1 Juni 2021) — Memperingati hari lahirnya Pancasila, Balai Anak “Handayani” di Jakarta mengikuti Upacara yang dilakukan secara virtual. Melalui siaran langsung Televisi Nasional Republik Indonesia (TVRI), upacara tetap dapat dilaksanakan secara khidmat.

Menerapkan protokol kesehatan, upacara secara langsung dihadiri oleh 29 Penerima Manfaat Balai Anak “Handayani” dan 20 petugas pendamping. Sementara, sebanyak 58 petugas Balai Anak “Handayani” mengikuti upacara di kediaman masing-masing, juga melalui siaran langsung TVRI atau pada kanal Youtube milik Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Seluruh PM dan petugas Balai Anak “Handayani” mendengarkan secara seksama apa yang diamanatkan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. “Peringatan Hari lahirnya Pancasila di setiap tanggal 1 Juni harus benar-benar kita manfaatkan untuk mengkokohkan nilai-nilai Pancasila dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” pesan Joko Widodo.

Selain itu, Joko Widodo juga berpesan untuk mewaspadai meningkatnya rivalitas dan kompetisi, termasuk rivalitas pandangan, nilai-nilai, dan ideologi yang dapat memicu perbedaan antar masyarakat.

Lebih lanjut, Joko Widodo berpesan bahwa perluasan dan pendalaman ilmu pengetahuan dan teknologi kini harus cepat dan menggunakan cara-cara baru yang luar biasa, sehingga Negara Indonesia tidak kalah berkompetisi dengan Negara-Negara lainnya di dunia. Namun tetap, Pancasila harus menjadi pondasi agar kita tetap dapat mencintai tanah air.

Terakhir, Joko Widodo mengajak kepada seluruh aparat pemerintahan, tokoh agama, tokoh masyarakat, para pendidik, kaum profesional, generasi muda Indonesia, dan seluruh rakyat Indonesia untuk bersatu padu dan bergerak aktif untuk memperkokoh nilai-nilai Pancasila dalam mewujudkan Indonesia maju yang kita cita-citakan.

“Selamat hari lahir Pancasila, Selamat membumikan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara”, sahut Joko Widodo menutup amanahnya.

Humas BRSAMPK “Handayani” di Jakarta

Penulis: Tirani Larasati




Balai Handayani Milik Kemensos Respon Anak yang Menderita Hidrosefalus di Cianjur

CIANJUR (21 MEI 2021) – – Kementerian Sosial melalui Balai “Handayani” Jakarta menjangkau Rafi, anak yang menderita penyakit hidrosefalus di Kampung Pasir Sapi, Desa Sukamulya , Kecamatan Cugenang, Cianjur. Kisah Rafi menarik perhatian setelah seorang warganet mengunggah kondisinya di media sosial.

Mengetahui hal ini, Menteri Sosial melalui Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial, Harry Hikmat langsung mengarahkan Balai “Handayani” untuk melakukan respon kasus Rabu (19/05) atas informasi tersebut.

Kepala Rafi membesar hampir menyamai tubuh mungilnya, bola matanya tampak berwarna putih, badan demam dan sesekali mengeluarkan suara merespon rangsangan dari sekelilingnya. Kondisi tubuh anak kedua pasangan Sam’un dan Ami ini terlihat jauh dari kondisi bayi pada umumnya.

Penyakit hidrosefalus sudah diderita Rafi sejak lahir dan Dokter sudah menyarankan agar segera diberi tindakan medis, namun karena alasan biaya Rafi dibawa pulang untuk dirawat di rumah.

“Sebenarnya dokter sudah sarankan agar diobatin di rumah sakit, tapi karena tidak ada biaya dan belum ada BPJS jadi Rafi kami bawa pulang,” ujar Ami, Ibu kandung Rafi.

Ayah Rafi bekerja sebagai buruh harian lepas, sedangkan ibunya mengurus Rafi dan kakaknya di rumah. Penghasilan Ayahnya tidak cukup untuk membiayai pengobatan Rafi, BPJS mereka sedang dalam pengurusan karena terkendala alamat KTP yang beralamat di Banten sedangkan saat ini mereka berada di Kabupaten Cianjur.

Keluarga Rafi juga tidak pernah menerima bantuan seperti PKH (Program Keluarga Harapan) dan BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai).

Hasil asesmen Pekerja Sosial Balai Handayani dan koordinasi yang melibatkan Dinas Sosial Kabupaten Cianjur, Satuan Bakti Pekerja Sosial, Camat Cugenang, Kepala Desa Sukamulya, dan Tenaga Kesejahteraan Sosial (TKSK) hari itu juga segera dilakukan penanganan dengan membawa Rafi ke RSUD Cianjur.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan agar Rafi bisa dibiayai dengan BPJS, walaupun terkendala pada KTP orang tua yang masih domisili Banten,” kata Marzuki, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Cianjur.

Ia juga menjelaskan bahwa pengurusan BPJS tidak berbayar memerlukan waktu sebelum aktif karena ada proses verifikasi terlebih dahulu. Mengetahui hal tersebut, Balai Anak Handayani berinisiatif agar Rafi dibawa dulu ke rumah sakit dengan membawa surat keterangan tidak mampu. Pihak Dinas Sosial menjadi penjamin bahwa BPJS Rafi akan diurus lebih cepat dan pihak Desa Sukamulya memfasilitasi ambulan.

Saat ini, Rafi sudah berada di RSUD Cianjur untuk mendapatkan perawatan. Rafi sudah menjalani pemeriksaan oleh dokter saraf, dokter anak, CT Scan , dan pemeriksaan darah.

Wakil Direktur RSUD Cianjur, Rita saat dikonfirmasi pekerja sosial Handayani menyampaikan pihak rumah sakit akan berusaha memberikan pelayanan terbaik bagi Rafi.

“Kemungkinan Rafi bisa dioperasi di sini, namun jika kondisinya tidak membaik, kami akan rujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin di Bandung,” jelasnya.

Sementera itu, Kepala Balai Anak” Handayani”, Hasrifah Musa pada Jumat (21/05) bersama Tim Respon Kasus dan Sekretaris Dinas Sosial Cianjur, Dindin mengunjungi RSUD Cianjur untuk koordinasi penanganan lanjutan dan melihat secara langsung perkembangan Rafi.

Tim diterima oleh Kepala Bagian Medik RSUD Cianjur, Dr. Sunny. “Kami menyambut baik perhatian dari Kemensos dan juga Dinas Sosial. Kamis kemarin kami sudah lakukan CT Scan dan hasilnya ananda Rafi mengidap hidrosefalus berat,” jelas dr. Sunny.

“Saat ini kami sedang memberikan pelayanan semaksimal mungkin untuk kesembuhan Rafi. Kami punya beberapa dokter ahli yang terus berusaha merawat Rafi, penanganan medis selanjutnya menunggu hasil pemeriksaan dokter, laboratorium dan kondisi Rafi,” sambungnya.

Menteri Sosial RI, Tri Rismaharini menekankan respon cepat terhadap penanganan permasalah sosial di masyarakat. Beliau menyampaikan agar Balai Kemensos tetap mendampingi Rafi dan keluarganya serta apresiasi atas perhatian dan gerak cepat pemerintah daerah.

Selain melakukan pendampingan dan advokasi, Balai Handayani juga memberikan bantuan ATENSI berupa pemenuhan nutrisi dan hygiene kits untuk Rafi, dan dukungan permakanan untuk orangtua yang mendampingi (saat ini ayah tidak bekerja).

Adapun BPJS tidak berbayar Rafi tinggal menunggu aktif. Sedangkan pihak Kecamatan Cugenang juga berkomitmen untuk memasukkan keluarga Rafi ke dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) untuk selanjutnya diusulkan sebagai penerima program PKH.

Penulis :
Rizka Surya Ananda
Penyuluh Sosial Ahli Pertama




Kemensos Gandeng LPAI Berikan Atensi dan Dukungan Psikososial kepada Anak Terdampak Bencana Badai Seroja di NTT

NUSA TENGGARA TIMUR, (23 April 2021) – – Kementerian Sosial melalui Balai Anak “Handayani” di Jakarta merespon bencana alam yang terjadi di Nusa Tenggara Timur atas arahan dari Menteri Sosial, Tri Rismaharani kepada Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial, Harry Hikmat. Bencana ini tidak hanya menyebabkan kerusakan bangunan fisik dan korban jiwa, namun juga menyisakan pengalaman yang tidak menyenangkan bagi anak-anak.

Sebagai upaya pemulihan kesejahteraan mental anak akibat bencana, Balai Anak “Handayani”, menugaskan Pekerja Sosial Balai, yaitu Fajar Putra dan melibatkan pemerhati anak, Seto Mulyadi atau yang lebih akrab disapa Kak Seto, dan Henny Hermanu atau Kak Henny. Keduanya merupakan Ketua dan Sekjen LPAI (Lembaga Kesejahteraan Anak Indonesia) sekaligus Psikolog Anak.

Setibanya di Kupang pada hari Minggu (18/4), tim langsung bergerak ke wilayah Kecamatan Oebobo, Kota Kupang. Tim bekerja sama dengan Satuan Bakti Pekerja Sosial setempat dalam memberikan layanan dukungan Psikososial (LDP) kepada anak-anak.

“Kami telah koordinasi dengan peksos di lapangan dan langsung bergerak ke lokasi bencana ke wilayah Oebono ini, atau lengkapnya di jalan Amanuban. Di sini ada banyak anak yang kehilangan tempat tinggal akibat longsor karena badai seroja yang sebelumnya terjadi pada minggu malam” ujar Fajar.

Seperti daerah lainnya di NTT, Kota Kupang juga terdampak. Di jalan Amanuban sendiri, terdapat 38 rumah yang hilang tertimbun akibat longsor, serta rumah-rumah yang rusak ringan hingga berat. Hal ini membuat banyak keluarga harus mengungsi dengan fasilitas tenda secukupnya.

“Terdapat empat titik pengungsian di jalan Amanuban Kota Kupang, dan posko ini dikelola oleh warga-warga secara swadaya. Pengungsi tinggal dirumah warga yang lebih aman dan hanya ada sedikit tenda,” kata Supervisor Sakti Peksos NTT, Dian.

Kedatangan tim Balai Anak “Handayani” disambut penuh suka cita oleh warga dan anak-anak yang berada di pengungsian.

“Anak-anak senang sekali pas tau Kak Seto mau datang. Mereka gak sabar untuk ketemu langsung,” ujar Jenny, salah satu pekerja sosial anak di Kota Kupang.

Pelaksanaan LDP ini dilakukan secara interaktif dan penuh keceriaan. Kegiatan dilaksanakan dengan mengajak anak-anak bernyanyi, mendongeng, sulap, dan menari bersama serta kuis-kuis yang seru. Beberapa anak bahkan mengejar Tim untuk menanyakan rahasia sulap yang dilakukan

“Kami sangat bahagia berada di NTT untuk menghibur anak melalui kegiatan LDP dan harapannya anak-anak bisa kembali bangkit dan tersenyum,” ujar Kak Seto dengan antusias.

Layanan Dukungan Psikososial Kebencanaan merupakan suatu upaya yang diberikan untuk mengurangi, menyembuhkan dan/atau menghilangkan rasa takut, stress, dan trauma paska terjadinya bencana. Jika dibiarkan dapat memengaruhi kesejahteraan mental kelompok rentan, seperti anak, lansia, dan disabilitas.

Pelaksanaan LDP oleh Tim Balai Anak “Handayani” dan LPAI dilaksanakan di beberapa tempat, yaitu di Kota Kupang, Kabupaten Lembata, serta Kabupaten Flores Timur, di Adonara. Pada mulanya tim berencana melakukan kegiatan hanya di Kota Kupang, namun karena banyaknya permintaan dari posko-posko terkait aktivitas LDP, tim berkoordinasi dan membangun rencana untuk menuju wilayah lainnya dalam rangka menggapai anak sebanyak-banyaknya, namun tetap dengan memperhatikan kualitas layanan dukungan yang diberikan.

“Kami telah mengunjungi 11 posko pengungsian di Kota Kupang, Lembata dan Adonara dalam waktu 6 hari. Jumlah anak yang kami berikan dukungan psikososial yaitu 166 anak di Kota Kupang di 4 Posko, 222 anak di 5 Posko di Kabupaten Lembata, dan 87 anak di Adonara di 2 posko pengungsian. Jadi total anak yang dapat LDP oleh tim kami yaitu 475 anak,” ujar Fajar.

Selain itu, selama kegiatan berlangsung para orang tua juga diberikan masukan melalui kegiatan bernyanyi dan dongeng dari kak Seto dan Kak Henny agar mereka terus memperhatikan tumbuh kembang anak.

“Peran orang tua sangat penting dalam situasi seperti ini untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada anak,” jelas Kak Henny di hadapan para orang tua.

Pelaksanaan kegiatan LDP di tiga wilayah ini memberikan pengalaman yang menantang bagi tim yang bertugas, khususnya pada medan perjalanan yang dilakukan. Tim harus menaiki kapal nelayan selama 25 menit dari Kampung Waijarang di Lembata menuju Pelabuhan Ile Boleng di Adonara, kemudian setibanya di adonara tim langsung melakukan LDP di Posko Lama Nele , Adonara Timur hingga pukul 19.30 WITA dengan keadaan baju yang basah akibat terjangan ombak selama perjalanan menggunakan kapal nelayan.

“Kecintaan kami kepada anak-anak membawa kami kesini, pada Hari Rabu (21/6), kami bersama Balai Anak Handayani berhasil melakukan LDP di 6 Posko pengungsian sekaligus secara efisien dan berdampak pada anak,” ujar Kak Seto dengan semangat.

Koordinasi dan kolaborasi merupakan aspek yang terpenting dalam pelaksanaan kegiatan ini untuk menciptakan sinergitas dan keefektifan layanan dukungan. Tim berpindah dari posko ke posko secara berlanjutan dengan berkoordinasi dengan pihak-pihak yang telah berada di lapangan.

Apresiasi dari Kepala Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Kabupaten Lembata, Ambrosius Wurin Leyn.

“Saya sangat berterima kasih kepada Kemensos melalui Balai Anak Handayani atas perhatiannya kepada anak-anak dan keluarga disini. Terus terang, bencana alam di Kabupaten Lembata terjadi bertubi-tubi, setelah Covid-19, kemudian erupsi gunung berapi dan kemudian badai seroja, anak-anak butuh trauma healing ,” jelas Ambrus.

Sementara itu, Tim juga telah memberikan 111 paket bantuan bagi anak-anak dengan tiga kategori, yaitu bayi, balita serta anak dan remaja di Kota Kupang. Bantuan diberikan berdasarkan asesmen yang telah dilakukan oleh satuan bakti pekerja sosial setempat yang sering ke lokasi pengungsian. Bantuan secara simbolis diserahkan kepada Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Provinsi NTT, Maria M.S Nduru.

Selanjutnya, Tim akan terus berkoordinasi kepada pihak terkait dalam rangka pemenuhan hidup layak bagi anak dan keluarga di pengungsian. Tim juga mendorong elemen-elemen yang berada di lapangan untuk terus mendampingi anak-anak melalui kegiatan-kegiatan LDP yang interaktif dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan mental anak-anak.

Harapannya, semoga kegiatan yang dilakukan dapat menghasilkan warna baru pada anak, sehingga mereka dapat menyalurkan rasa takut, cemas dan trauma menjadi emosi yang lebih positif.

Penulis :
Fajar Putra Nur Rahman

Editor :
Rizka Surya Ananda




Pastikan Kepengasuhan Anak, Kementerian Sosial Respon Kasus Anak Tinggal di Rumah Tidak Layak Huni di Pandeglang

PANDEGLANG, (13 April 2021) – Sempat viral, berita permasalahan “Ai” yang tinggal tanpa wali di rumah tidak layak huni kini telah mendapatkan banyak perhatian dari berbagai pihak. Pada berita sebelumnya dijelaskan bahwa “Ai” tinggal di sebuah rumah tidak layak huni bersama keponakannya tanpa wali.

Kementerian Sosial melalui Balai Anak “Handayani” di Jakarta tidak tinggal diam. Berdasarkan arahan Menteri Sosial, Tri Rismaharini melalui Dirjen Rehabilitasi Sosial, Harry Hikmat untuk merespon permasalahan sosial diantaranya kasus anak. Tim Balai Anak “Handayani”, yang terdiri dari Pekerja Sosial, Tirani Larasati dan Sri Wahyuni segera melakukan penelusuran dan berkoordinasi dengan Dinas Sosial setempat dan Sakti Peksos.

“Pastikan kepengasuhannya “Ai” penuhi hak-haknya. Koordinasikan terlebih dahulu dengan Pemerintah Daerah,” pesan Harry

Sakti Peksos Kabupaten Pandeglang, Ahmad Subhan yang sebelumnya melakukan asesmen ke tempat tinggal “Ai” menyatakan bahwa kondisi tersebut ramai diberitakan bermula dari guru sekolah “Ai” yang berupaya membuka donasi untuk membantu “Ai”.

Diketahui bahwa Ibu “Ai” telah meninggal dunia dan Ayahnya, “Ja” yang kemudian menikah kembali dan tinggal di rumah yang berbeda. Namun, bertolak belakang dengan berita yang viral, “Ja” secara rutin mengunjungi “Ai” untuk memastikan pemenuhan kebutuhan dasarnya. Selain itu, “Ai” tinggal di lingkungan keluarga besar sang Ibu. Setiap hari Tante “Ai”, “In” selalu memberikan pemenuhan kebutuhan harian.

“Sebenarnya, “Ai” tidak ditelantarkan begitu saja oleh keluarganya. “Uwa” (Tante) nya selalu memperhatikan, bahkan “Ai” sering tinggal di rumah Uwanya. Bapaknya rutin nengokin, kakaknya juga yang kerja di Jakarta rutin kirim uang buat kebutuhan “Ai”,” jelas Ahmad

Ditemui di tempat berbeda, Camat Kecamatan Cimanggu, Hadi Patoni juga menyampaikan bahwa “Ai” termasuk ke dalam salah satu penerima bantuan.

“Ai” itu sudah diverifikasi untuk memperoleh bantuan renovasi karena rumahnya tidak layak huni. Diketahui kemudian bahwa rumah “Ai” saat ini sedang direnovasi berkat bantuan dari Birokesra Provinsi.

“Ai” juga pemegang kartu kombo, artinya ia dapat bantuan dari Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT),” pungkas Hadi.

Balai Anak “Handayani” memastikan pemenuhan hak-hak anak. “Ai” yang selama ini tinggal bersama keponakannya, “Af” menyatakan bahwa selama ini Tantenyalah yang menjadi walinya. Sehingga, tim Balai Anak “Handayani” melakukan diskusi dengan keluarga kedua anak tersebut untuk memastikan wali dan tanggung jawab kepengasuhan anak.

Disaksikan bersama oleh Peksos Balai Anak “Handayani”, Perwakilan dari Dinas Sosial Kabupaten Pandeglang dan Sakti Peksos, “Ja” dan “In” membuat surat pernyataan kesepakatan untuk pengasuhan anak. Kedua belah pihak siap untuk tetap bersama mengawal tumbuh kembang kedua anak, namun untuk kepengasuhan diserahkan kepada “In” karena “Ja” dan Ibu “Af” bekerja di wilayah lain.

Tim Balai Anak “Handayani” memberikan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) kepada kedua anak. Kedua anak diberikan permainan susun bangun ruang, pengungkapan harapan, cermin diri, dan permainan kerjasama melalui tumpuk balok. Tujuannya untuk membantu anak menilai dan menggali potensi yang dimilikinya, membantu membuat perencanaan masa depan anak, dan memberikan motivasi.

Selanjutnya berdasarkan hasil asesmen, untuk mendukung proses belajar anak, Balai Anak “Handayani” memberikan vitamin dan beberapa peralatan sekolah seperti buku tulis, alat tulis, dan sepatu sekolah. Diketahui bahwa kegiatan belajar mengajar akan segera dilakukan secara langsung.

Kedua anak merasa senang dan berharap akan mendapatkan LDP lanjutan. Balai Anak “Handayani” akan tetap melakukan monitoring melalui Sakti Peksos dan Dinas Sosial Kabupaten Pandeglang untuk mengetahui pemenuhan hak dan tumbuh kembang anak.

Penulis :
Tirani Larasati
Pekerja Sosial Ahli Pertama




Balai Anak Handayani Berikan Rehabilitasi Sosial kepada Tiga Anak Punk Asal Tasikmalaya

JAKARTA, (11 APRIL 2021) – – Balai Anak “Handayani” memberikan rehabilitasi kepada tiga anak punk asal Tasikmalaya. Hal ini merupakan hasil kegiatan respon kasus Kementerian Sosial melalui Pekerja Sosial Balai Anak “Handayani” dan Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak atas arahan Menteri Sosial kepada Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial terkait keberadaan Anak Punk di wilayah Tasikmalaya, Jawa Barat.

Sejak 1-6 April 2021, tim telah berkoordinasi dengan beberapa pemangku kepentingan di wilayah Tasikmalaya, yaitu Dinas Sosial Kota Tasikmalaya, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Ato Rinanto, Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) Tasikmalaya dan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) yang menangani kelompok punk.

Pada hari Selasa (6/4), tiga anak dirujuk ke Balai Anak “Handayani” untuk mendapatkan rehabilitasi sosial.

Adalah DN, 16 tahun, yang sudah hidup di jalan sejak dua tahun lalu. DN memutuskan keluar dari rumah karena tidak tahan atas tindak kekerasan yang dilakukan oleh ayahnya. Ia dan adik-adiknya menyaksikan kekerasan yang dilakukan ayah kepada ibunya. Ia bahkan masih ingat bagaimana ayahnya membenturkan kepalanya ke tembok karena ia membela ibunya.

Sebelum tinggal di jalan, DN tinggal di rumah neneknya. Ia kerap mencoba menghubungi ayah atau ibunya untuk sekedar meminta uang jajan. Terakhir ia meminta uang Rp. 50.000 untuk berobat namun tidak digubris.

“Saya pernah minta uang ke bapak sama ibu, tapi saya dicuekin pak. Dari situ saya mau ngurus diri saya sendiri aja, gak mau lagi ngerepotin orang tua,” ujar nya.

Kekecewaan ini akhirnya membuat DN memutuskan untuk mengurus hidupnya sendiri dengan turun ke jalan. Ia menjadi pengamen, uangnya ia gunakan untuk makan, membeli rokok, dan sesekali ia membeli obat-obatan terlarang seperti eksimer.

Berbeda dengan DN yang sudah hidup di jalan selama 2 tahun, SE baru bergabung dengan komunitas anak punk sejak 3 bulan lalu. Anak perempuan berusia 15 tahun ini bertemu komunitas anak punk di facebook. SE mengaku merasa nyaman di jalan karena banyak teman yang peduli dengannya, tidak seperti saat berada di rumah.

“Kalau di rumah, saya merasa gak nyaman pak. karna kalau bandel saya dipukul sama kakak saya,” katanya kepada pekerja sosial.

SE tinggal bersama nenek dan kakeknya sejak usia 5 tahun, ibu nya sudah lama bekerja sebagai TKW di timur tengah. Sejak kakek nenek nya meninggal, SE diasuh oleh 3 kakak nya.

Sama seperti SE, RN juga diasuh oleh neneknya sejak bayi. Di antara dua temannya, RN adalah yang paling lama menjadi anak punk. RN sudah menjadi anak punk sejak 3 tahun lalu saat ia putus sekolah karena alasan ekonomi. Situasi ini mengantarkannya bertemu dengan grup anak punk dan berlanjut saat ini.

“Saya putus sekolah pas SD kelas 6 pak, dari situ saya mulai ikut-ikutan BM pak,” kata RN.

BM adalah istilah anak punk untuk merujuk kegiatan berpindah-pindah tempat menggunakan transportasi darat seperti truk. Hal ini pula lah yang disinyalir menjadi penyebab banyaknya anak punk di Tasiklamaya karena kawasannya yang strategis.

Tasikmalaya merupakan salah satu jalur utama selatan Pulau Jawa. Menurut Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Tasikmalaya, Ato Rinanto, mudahnya akses tersebut menyebabkan anak-anak punk di Tasikmalaya banyak yang berasal dari luar, seperti kota dari Parahiyangan Timur, yaitu Garut, Ciamis, Pangandaran, Banjar serta Jawa Tengah. Lokasi tempat singgah anak-anak tersebut yaitu di Ciawi, Indihiang, Kawalu, dan Cikurubuk.

“Anak-anak Punk disini (Tasikmalaya), bukan cuma berasal dari Tasik, tapi juga datang dari daerah-daerah lain. Anak-anak punk ini mobilitasnya tinggi. Mereka akan berpindah-pindah atau seringnya kita sebut nomaden, ya karena perilaku bebas yang mereka inginkan,” ujar Ato Rinanto saat ditemui pekerja sosial Balai Anak “Handayani” di kantornya (1/4).

Pemerintah Tasiklmalaya juga mendapatkan bantuan dari masyarakat lokal dalam menangani anak punk, salah satunya Kang Tana. Ia menjadikan rumah pribadinya sebagai tempat tinggal anak punk. Saat ini terdapat 73 anak-anak Punk asli Tasikmalaya yang diasuh oleh Kang Tana, termasuk RN, SE, dan DN. Namun jika ditotalkan keseluruhan dari anak-anak punk di seluruh Pulau Jawa yang pernah singgah dirumahnya, ia sudah menampung ratusan anak.

“Banyak orang berfikir ketika melihat anak-anak tidur di jalanan, itu tidak pantas, namun bagi saya lebih tidak pantas lagi ketika saya membiarkan mereka,” ujar kang Tana.

Selain Kang Tana, terdapat dua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) yang siap memberikan layanan kepada anak punk. Dua LKSA tersebut adalah LKSA Islam Darusasalam di Kecamatan Rajapolah dan LKSA Jamiyatul Abror Al-gaza di Kecamatan Cigalontang. Tim Respon kasus mengunjungi dua LKSA tersebut untuk mengetahui bagaimana pengalaman keduanya dalam mengasuh anak punk.

“LKSA kami selalu siap untuk mendukung penanganan anak-anak punk di Tasikmalaya. Kami juga punya pengalaman dalam menangani mereka,” kata Haji Aep selaku Ketua LKSA Islam Darusasalam.

Fenomena anak punk merupakan salah satu fenomena sosial yang menjadi konsen Kementerian Sosial, terutama Menteri Sosial Tri Rismaharini. Risma menugaskan balai-balai Kemensos agar merespon kasus anak-anak punk di Tasikmalaya.

Ketiga anak punk dari Tasikmalaya sudah mendapatkan layanan rehabilitasi sosial di Balai Anak “Handayani” di Jakarta.

“Mereka sudah kita berikan layanan ATENSI berbasis residensial. Saat datang kami langsung lakukan pemeriksaan kesehatan dan psikologis. Mereka juga sudah ikut kegiatan terapi psikososial dan konseling dengan pikolog,” tutur Kepala Balai Anak “Handayani”, Hasrifah Musa pada Jum’at (9/4).

Anak-anak juga mendapatkan pelatihan ketrampilan vokasional dan akan difasilitasi untuk mengikuti program kejar paket. Ada beberapa kegiatan ketrampilan vokasional di Balai yang dapat pilih, seperti las, otomotif, pendingin, sablon, handycraft , dan mix farming.

Saat ini Balai sedang fokus pada proses pengubahan perilaku. Anak-anak secara intensif diberikan konseling baik secara kelompok dan individu oleh Pekerja Sosial, Psikolog, Penyuluh Sosial, Perawat, dan Pembimbing Keagamaan.

“Anak-anak itu merasa nyaman tinggal di jalan, bahkan saat pertama datang ada yang menagis karena tidak terbiasa dengan fasilitas yang ada di balai. Dia bilang terlalu mewah. Ini dulu yang ingin kita ubah, anak-anak harus punya persepsi bahwa hidup di jalan bukanlah solusi yang baik untuk hidup mereka,” jelas Hasrifah.

Balai Anak “Handayani” juga sudah menyiapkan alternatif pengasuhan bagi 3 anak tersebut jika mereka telah selesai mendapatkan rehabilitasi. Salah satu nya dengan menempatkan anak di fasilitas permanen yang dapat mendukung proses tumbuh kembang mereka hingga dewasa.

“Kemaren saat enam hari di Tasik, kami sudah berkoordinasi dengan dua LKSA yaitu LKSA Islam Darusasalam dan LKSA Jamiyatul Abror Al-gaza. Mereka bilang siap untuk memberikan pengasuhan kepada anak-anak jika diberikan kepercayaan,” tandasnya.

Kementerian Sosial melalui program ATENSI akan melakukan intervensi berbasis keluarga, komunitas dan residential dalam mendukung penyelesaian kelompok, anak-anak punk, terutama dalam hal mengaksesan hak-hak tumbuh kembang anak agar setiap anak dapat menggunakan potensi maksimalnya tanpa terkecuali.

Penulis:
Rizka Surya Ananda
Fajar Putra Nur Rahman




Kerja Sama Balai Anak “Handayani” dengan BNPT Tingkatkan Kompetensi Penanganan Anak dan Keluarga Terpapar Terorisme

JAKARTA, (3 April 2021) – Sejak 2016, Kementerian Sosial RI melalui Balai Rehabilitasi Sosial Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) “Handayani” di Jakarta menangani anak dan keluarga yang terpapar radikalisme. Setiap penanganan permasalahan anak memiliki keunikannya masing-masing. Penanganan anak dan keluarga yang terpapar radikalisme membutuhkan banyak pengetahuan serta teknik khusus sebagai langkah untuk memperkuat intervensinya.

Sebelumnya pada Januari 2020, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memfasilitasi Pekerja Sosial dan Psikolog pada seluruh Balai Anak di Kementerian Sosial, Kepolisian, dan Community Organization (CSO) untuk mendapatkan training capacity building penanganan anak dan keluarga terpapar radikalisme dari Hedayah.

Tujuan training capacity building ini adalah untuk memperkuat strategi dan kolaborasi multi lembaga dalam pencegahan, rehabilitasi sosial, dan reintegrasi anak dan keluarga yang terpapar radikalisme.

Hedayah merupakan International Center of Excellence for Countering Violent Extrimist yang berbasis di Abu Dhabi. Hedayah memiliki banyak pengetahuan dan teknik-teknik penanganan anak dan keluarga yang terpapar radikalisme yang dipelajari dari berbagai negara. Tenaga pengajar yang dihadirkan merupakan praktisi yang secara langsung menangani anak dan keluarga yang terpapar radikalisme di seluruh dunia.

Hedayah melalui BNPT pada 1 April 2021 mengadakan rapat mengenai perencanaan pelaksanaan training capacity building lanjutan sesi kedua bagi para praktisi yang telah memperoleh pengetahuan dan keterampilan penanganan anak dan keluarga terpapar radikalisme pada Januari 2020 lalu. Seluruh rangkaian kegiatan Hedayah didukung oleh Pemerintah Negara Jepang.

Hadir secara virtual Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Kementerian Soaial RI, Kanya Eka Santi, Kepala Balai Anak “Handayani” di Jakarta, Hasrifah Musa yang kemudian berdiskusi dengan Duta Besar Jepang untuk Uni Emirat Arab, H.E Akihiko Nakajima, Deputi Kerjasama Internasional BNPT Andhika Chisnayudhanto, Direktur Eksekutif Hedayah, Ivo Veenkamp, dan perwakilan Kementerian/Lembaga RI serta CSO yang hadir secara langsung di salah satu Hotel di Jakarta.

“Pemerintah Indonesia menyambut dengan hangat pelaksanaan training capacity building lanjutan bagi para petugas penanganan anak dan keluarga yang terpapar radikalisme di Indonesia,” ujar Andhika

Pembahasan diskusi yakni seputar evaluasi training capacity building pada sesi pertama, pentingnya peran keluarga bagi pencegahan dan ketahanan keluarga, serta materi-materi apa yang menjadi urgenitas di Indonesia saat ini.

Senada dengan Andhika, Kanya menyampaikan ucapan terima kasih serta penyambutan untuk pelaksanaan training capacity building lanjutan ini.

“Seperti yang kita ketahui bersama memang isu terorisme tidak bisa disepelekan, terlebih apabila menyangkut hak-hak anak. Pekerja Sosial, Psikolog, dan Petugas lainnya di Balai-Balai Anak tentunya perlu kita dukung demi pemberian pelayanan yang maksimal, karena sulit mengembalikan anak ke keluarga dan menghilangkan stigma di masyarajat,” jelas Kanya.

Pelaksanaan training capacity building ini direncanakan akan dilaksanakan pada Juni atau Juli tahun 2021. Tentu sebelumnya akan kembali dilaksanakan rapat untuk pembahasan secara detail mengenai materi-materi lanjutan yang diperlukan.

Hasrifah menjelaskan pula bahwa training capacity building yang telah dilaksanakan telah meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan teknik dasar para Petugas dalam melakukan pendampingan anak dan keluarga yang terpapar radikalisme.

“Harapan kami, training selanjutnya para Petugas dapat diberikan materi yang terfokus pada proses intervensi rehabilitasi sosial, rujukan, strategi pemulangan, dan reintegrasi sosial,” tambah Hasrifah.

Penulis :
Tirani Larasati
Pekerja Sosial Ahli Pertama




Anak Penyintas Kekerasan Seksual di Sukabumi Bercita-cita Ingin jadi Dokter

JAKARTA, (2 APRIL 2021) – – Di Amerika Serikat, bulan April ditetapkan sebagai Bulan Kesadaran Kekerasan Seksual ( Sexual Assault Awarness Month ). Hal ini didedikasikan untuk kampanye menghentikan kekerasan seksual dan memberikan awarness kepada korban bahwa selalu ada bantuan yang dapat mereka akses. Selama ini, banyak korban kekerasan seksual enggan meminta bantuan atau melapor karena stigma negatif yang selalu dekat dengan korban.

Jasmin (bukan nama sebenarnya) adalah salah satu penyintas yang melaporkan kekerasan seksual yang dialaminya. Sejak kecil, ia mengalami kekerasan seksual yang dilakukan oleh ayah kandungnya. Hal ini pula lah yang membuatnya enggan melapor karena diancam akan ditelantarkan.

Butuh waktu enam tahun bagi anak berusia 12 tahun ini untuk menceritakan kejadian traumatis itu kepada teman terdekatnya. Cerita ini lah yang kemudian berujung pada laporan kepolisian yang mengakibatkan ayahnya ditangkap.

Jasmin dirujuk oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dan Satuan Bakti Pekerja Sosial Sukabumi ke Balai Anak “Handayani” pada tanggal 8 Oktober 2020. Pekerja Sosial yang menangani Jasmin di Balai, Sri Musfiah mengatakan ia terlihat cemas dan takut saat pertama kali datang.

“Dia terlihat cemas dan takut, juga tidak berani menatap lawan bicara. Namun kami terus berusaha membangun trust dan relasi agar anak merasa nyaman,” ujar Sri.

Di Balai Anak “Handayani”, Jasmin mendapatkan program rehabilitasi sosial yang komprehensif, seperti pemenuhan kebutuhan layak, perawatan kesehatan, pemeriksaan dan konseling psikologis, terapi psikososial, terapi mental spiritual, serta akses pendidikan.

“Kami mengupayakan agar Jasmin tetap bisa sekolah. Selama di balai dia terdaftar sebagai siswa Kelas 5 di SLB E Handayani,” ungkap Sri.

Jasmin memiliki motivasi yang kuat untuk belajar. Ia bercita-cita ingin jadi dokter agar bisa membantu banyak orang.

“Anak nya ingin jadi dokter. Makanya dia selalu semangat ke sekolah. Selain itu, dia juga tertarik dengan seni lukis,” tambah Sri.

Selama kurang lebih 6 bulan menjalani rehabilitasi sosial, Jasmin telah menunjukkan perkembangan psikologis, relasi sosial, dan perilaku yang baik dan stabil sesuai dengan perkembangannya. Jasmin juga menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang baik, terlihat dari bagaimana ia bisa menatap lawan bicara dan tersenyum saat berbicara. Ia juga mulai menunjukkan perilaku asertif dengan mampu mengungkapkan pendapatnya.

“Kondisinya saat ini sudah stabil, memang ada masa-masa sulit saat dia diminta untuk jadi saksi atas sidang ayahnya bulan Januari lalu. Namun dia tetap kuat dan bisa menjalani sidang dengan baik. Maka dari itu kami berani melakukan reintegrasi,” jelas Sri.

Balai Anak” Handayani” telah menggelar case conference terkait reintegrasi Jasmin pada tanggal 23 Maret 2021. Case conference ini dihadiri Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak, Ketua P2TP2A Kabupaten Sukabumi, Dinas Sosial Kabupaten Sukabumi, Dinas Sosial Kabupaten Cianjur, Sakti Peksos Sukabumi dan Cianjur. Dari CC tersebut, disepakati bahwa Jasmin direintegrasi ke salah satu Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) di Cianjur.

Keputusan ini diambil karena lokasi LKSA dekat dengan keluarganya yang saat ini berada di Cianjur. Anak tidak langsung di reintegrasi ke keluarga karena belum terjalin kelekatan akibat sudah 7 tahun berpisah. Namun penempatan di LKSA hanya bersifat sementara hingga nanti anak dapat direintegrasi kepada keluarga.

Kepala Balai Anak Handayani, Hasrifah Musa mengatakan bahwa pihak nya sangat konsen terhadap korban dan penyintas kekerasan seksual.

“Kasus anak korban kekerasan seksual adalah salah satu kasus yg lumayan banyak kami tangani. Persoalan nya itu rata-rata hampir sama, yaitu pelaku nya adalah orang terdekat,” ucap Hasrifah.

Menurutnya, pelaku memanfaatkan relasi kuasa untuk melakukan tindakan keji kepada korban. Relasi kuasa dalam kekerasan seksual adalah unsur kekuasaan pelaku atas ketidakberdayaan korban.

“Orang yang memiliki kekuasaan, dalam hal ini adalah pelaku, dapat melakukan tindakan kepada kelompok yang berada di bawah nya. Misalnya ayah kepada anak, atau orang dewasa kepada anak. Jenjang kekuasaan ini lah yang menjadi dasar kejahatan seksual,” paparnya.

Selanjutnya, Hasrifah menyayangkan budaya victim blaming dan stigma negatif yang masih lekat di Indonesia. Hal ini mengakibatkan banyak korban tidak mau melapor dan meminta bantuan karena takut akan disalahkan dan menjadi aib keluarga.

“Stigma negatif itu masih sangat kentara, dan ini yang ditakutkan korban. Ini saya dapat dari laporan teman-teman yang melakukan konseling online untuk anak-anak yang mengalami depresi. Hampir semua disebabkan oleh kekerasan seksual. Mereka tidak berani lapor. Ada yang sudah lapor tetapi kecewa karena merasa disalahkan,” ungkapnya.

Terakhir, Hasrifah mengungkapkan bahwa korban harus diberikan dukungan dan dijauhkan dari stigma negatif. Kesadaran masyarakat mengenai isu ini harus ditingkatkan. Balai Anak Handayani terus mengupayakan hal ini, salah satu nya dengan membuka konseling online dan tindakan pencegahan melalui kegiatan Peksos Goes to School (PGTS).

Penulis :
Rizka Surya Ananda
Penyuluh Sosial Ahli Pertama




Cerita Reunifikasi Nurul, Bayi dari Abudhabi

JAKARTA – (31 MARET 2021) – Sejak tahun 2019, Balai Anak “Handayani” telah bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri dalam menangani Anak Tidak Terdokumentasi (ATT) dari luar negeri. ATT adalah anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang dideportasi ke tanah air karena masalah dokumen kependudukan ataupun ditelantarkan oleh orang tua.

Kebanyakan dari mereka dideportasi dari Timur Tengah, Taiwan, dan Malaysia. Setidaknya lebih dari 20 anak dirujuk ke Balai Anak “Handayani”, dan sebagian besar telah direunifikasi dengan kerabat terdekat.

Adalah Nurul (bukan nama sebenarnya), bayi berusia 1 tahun yang dideportasi dari Abudhabi ini baru saja direunifikasi dengan kerabat terdekat nya yang berada di Karawang. Pada Desember 2020 lalu, Nurul dipulangkan ke Indonesia karena Ibu nya meninggal saat melahirkannya. Sayang nya, ayah Nurul tidak diketahui keberadaannya hingga saat ini.

Berbekal alamat dari dokumen pemulangan Nurul, pekerja sosial Balai Anak Handayani bekerja sama dengan Dinas Sosial Kabupaten Kawarang dan Sakti Peksos Karawang kemudian melakukan penelusuran kerabat dekat anak yang diketahui berada di Karawang. Hasilnya, Nurul diketahui memiliki nenek, bibi, dan tujuh saudara tiri dari pernikahan ibu nya sebelum pergi ke Abudhabi.

“Iya, dia anak dari kakak kandung saya yang meninggal setahun lalu di Arab,” ujar Ibu Rania (bukan nama sebenarnya) kepada tim yang datang ke rumahnya saat home visit.

Ibu Rania adalah adik kandung orang tua Nurul yang juga merawat 2 kakak nya. Kepada Pekerja Sosial, ia mengatakan siap untuk mengasuh Nurul jika dikembalikan ke keluarga.

“Pada saat kami dihubungi tentang Nurul, awal nya kami terkejut, karena kakak saya gak pernah cerita kalau dia punya anak di Arab. Tapi kami senang karena Nurul bisa pulang ke Indonesia, terutama ibu saya, sudah gak sabar ingin ketemu,” jelas nya.

Hasil home visit dan asesmen menunjukkan bahwa Ibu Rania dianggap layak mengasuh Nurul. Secara ekonomi, suami ibu Rania memiliki usaha dan penghasilan yang cukup stabil. Sedangkan secara fisik, Ibu Rania masih bugar dan sehat. Selain itu, Ibu Rania akan dibandu oleh Ibu nya dalam mengasuh anak.

“Ibu Rania adalah keluarga terdekat anak. Kami juga sudah menggelar case conference dengan pihak terkait dan sepakat untuk memulangkan Nurul ke pengasuhan keluarga,” kata Kepala Balai Anak “Handayani”, Hasrifah Musa.

Hari ini (31/3), Nurul telah direunifikasi dengan keluarga di Karawang. Reunifikasi ini didampingi langsung oleh Dinas Sosial Karawang yang diwakili oleh Kepala Seksi Jaminan Sosial Korban Tindak Kekerasan dan Perdagangan Orang, Lilis Tresnawati, dan Sakti Peksos Hilmi. Pihak dinas berjanji akan melakukan monitoring berkala kepada keluarga Nurul terkait pengasuhan.

Penulis :
Rizka Surya Ananda
Penyuluh Sosial Ahli Pertama




Tim LDP Balai Anak “Handayani” Kemensos Berikan Terapi Psikososial kepada Warga Terdampak Kebakaran Kilang Minyak Balongan

Jakarta, (1 April 2021) – Tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) Balai Anak “Handayani” bertolak ke lokasi pengungsian korban terdampak Kebakaran Kilang Minyak Balongan di Indramayu, Jawa Barat. Balai menurunkan pekerja sosial dan psikolog untuk memberikan layanan dukungan psikososial kepada warga terdampak, terutama anak-anak.

Sebelumnya, Menteri Sosial Tri Rismaharini telah mengunjungi lokasi pengungsian di GOR Bumi Patra dan menyampaikan langsung bantuan logistik senilai total Rp 305.184.250 untuk penanganan dampak bencana kebakaran dan mendirikan dapur umum.

Tim LDP terlebih dahulu berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Indramayu yang diwakili oleh Kepala Seksi Rehabilitasi Sosial Anak dan Lansia, Abdul Kalim.

“Saat ini ada 5 desa yang terdampak, itu yang berada di radius 300 m sampai 1 km dari lokasi kilang. Saat ini belum ada laporan korban jiwa, tapi memang ada yang meninggal karena kaget dan serangan jantung,” ujar Abdul.

Kebakaran Kilang Minyak Pertamina Balongan menyebabkan sedikitnya 6 orang mengalami luka berat, 29 orang luka ringan, dan lebih dari 900 orang mengungsi. Abdul mengatakan bahwa saat ini warga diungsikan di tiga titik.

“Ada 3 titik pengungsian yang telah disiapkan, ada di Pendopo Kabupaten, Masjid Islamic Center, dan GOR Bumi Patra. Warga mengungsi karna rumah nya rusak, kaca nya ada yang pecah, dan plafon nya ambruk,” sebutnya kepada Tim Balai Anak Handayani.

Setelah melakukan koordinasi dengan Dinas Sosial, Tim segera menuju GOR Bumi Patra untuk melakukan asesmen dan terapi psikososial.

“Kami sedang melakukan pendataan, sekaligus asesmen kepada anak-anak untuk mengetahui apakah ada indikasi trauma atau tidak. Saat ini kamu sudah melakukan asesmen kepada 96 anak,” jelas Psikolog Balai Anak “Handayani”, Fathimatuzzahroh Rahmah.

Ia mengatakan sejauh ini beberapa anak teridikasi mengalami trauma, dan sebagian lainnya tidak. Indikasi trauma tersebut seperti takut mendengar petir atau suara keras. Untuk mengurangi trauma ini, Tim Balai Anak “Handayani” juga telah memberikan terapi psikososial dengan mengajak anak bermain.

“Tadi anak-anak sudah kami ajak bermain agar mereka bisa melupakan sejenak situasi tidak menyenangkan yang mereka alami. Kami sudah siapkan beberapa reacreational kit yang akan digunakan dalam proses terapi dan trauma healing ,” lanjutnya.

Tim Balai Anak “Handayani” berada di pengungsian GOR Bumi Patra selama tiga hari sejak 30 Maret hingga 1 April 2021

Pada hari ketiga, Tim Handayani melanjutkan memberikan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) kepada pengungsi. Setelah melakukan asesmen pada pengungsi pada hari pertama, teridentifikasi beberapa anak yang mengalami trauma akibat kejadian tersebut.

Hasil identifikasi tersebut berdasarkan wawancara dan observasi orang tua serta anak yang dilakukan pada hari Selasa tanggal 30 Maret 2021. Ada 7 anak yang mendapatkan treatment lanjutan yang dilaksanakan pada hari Rabu dan Kamis tanggal 31 Maret dan 1 April 2021. Namun pada hari kedua, ada 1 anak yang tidak dapat hadir karena pindah mengungsi ke rumah saudara.

Pada hari pertama, anak-anak merasa takut ketika melihat api dan mendengar suara dentuman keras. Pada hari kedua, anak-anak merasa lebih berani, rasa takutnya cukup menurun.

Adapun Treatment yang diberikan kepada anak adalah penerapan
Teknik Flooding dengan cara imajeri, yaitu menghadirkan stimulus yang ditakuti dengan cara membayangkan situasi yang semakin meningkatkan
kecemasan dan rasa takutnya.

Setelah selesai melakukan treatment tersebut, 7 anak dan 33 anak lainnya mendapatkan bantuan pemenuhan nutrisi dan alat tulis sekolah sesuai dengan asesmen kebutuhan yang dilakukan Tim Handayani. Berdasarkan asesmen, terdapat 40 anak yang diberikan bantuan. Bantuan ini diberikan secara bertahap agar tidak menjadi kecemberuan untuk pengungsi lainnya.

Pemenuhin nutrisi yang diberikan antara lain biskuit, wafer, dan susu. Untuk alat tulis yang diberikan adalah pensil, pulpen, buku tulis, buku gambar, pensil warna, penghapus, dan serutan.

Penulis :
1. Fathimatuzzahroh R. Gustiani
2. Rizka Surya Ananda