Anak Memendam Emosi, Apa Bahayanya?

Fase remaja merupakan masa seorang anak mulai bertumbuh dan berkembang menjadi lebih optimal lagi, baik dari sisi fisik maupun otak. Yang hal tersebut mempengaruhi diri remaja dan berpikir dan bersikap. Akan tetapi, pertumbuhan dan perkembangan yang pesat tersebut, masih tetap sangat membutuhkan pendampingan dari orang tua ataupun orang dewasa lain yang memberikan pengaruh positif untuk dirinya.

Pertumbuhan dan perkembangan itu berpengaruh pada perkembangan emosi remaja. Emosi yang dialami oleh manusia ada emosi positif dan emosi negatif. Emosi positif itu seperti senang, kagum, bangga, gembira, dan lain-lain. Sedangkan emosi negatif seperti marah, kesal, sedih, dan lain-lain.

Perilaku pada remaja banyak dipengaruhi oleh emosinya. Namun beberapa remaja atau bahkan banyak remaja yang belum memiliki kemampuan untuk mengelola emosinya tersebut. Hal itu juga dialami oleh anak-anak yang sedang direhabilitasi di Balai Anak Handayani.

Mereka banyak memendam emosi negatif mereka tanpa terkelola dan tersalurkan sehingga emosi tersebut menumpuk dalam alam bawah sadar mereka. Lalu pada saat tertentu seketika “meledak” dan tanpa mereka sadari emosi tersebut menguasai dirinya. Kemudian muncul ke permukaan melalui tindakan di luar kendalinya sampai melakukan tindakan yang melanggar hukum.

Yang mereka alami adalah mereka memendam semua kekesalan, kemarahan, kesedihan, atau keterpurukan mereka, tanpa memahami hal itu menjadi suatu bom waktu yang dapat “meledak” kapanpun. Mereka belum memahami hal/tindakan apa yang bisa mereka lakukan untuk mengelolanya. Karena yang mereka lakukan hanya memendam tanpa mengelolanya dan menyalurkan emosi dengan semestinya.

Emosi yang mereka pendam tersebut muncul karena ada yang mendapatkan makian dan ancaman dari temannya, ada juga yang mendapatkan pelecehan seksual, dan lain-lain. Yang hal tersebut mereka hanya memendam yang mereka alami, tanpa memahami atau kebingungan apa yang harus mereka lakukan. Yang hal tersebut berkaitan juga dengan kemampuan dalam penyelesaian masalah.

Beberapa atau mungkin banyak remaja yang tidak menyadari bahwa emosi bukanlah dipendam, melainkan dikelola dan disalurkan. Namun remaja ini harus diberikan pengetahuan dan pemahaman tersebut oleh orang tua atau orang dewasa lainnya. Karena kemampuan dalam pengelolaan emosi tidak serta-merta didapat apabila tanpa diberikan pemahaman dan dilatih.

Cara pengelolaan emosi atau dapat dikatakan sebagai kecerdasan emosi (Goleman, 1995) memiliki ciri-ciri sebagai berikut mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri, mengenali emosi orang lain, dan membina hubungan.

Dalam keseharian, kita mengetahui dan memahami terlebih dahulu emosi apa yang sedang kita rasakan. Kemudian mengetahui penyebab/masalah dari emosi itu muncul. Setelah itu mencoba tenang, tetapi apabila belum bisa tenang, bisa melakukan banyak kegiatan positif (seperti berolahraga, melakukan hobi, melakukan kegiatan bakti sosial, dna lain-lain) untuk menyalurkan emosi tersebut sehingga dapat berpikir dengan baik untuk dapat menyelesaikan “penyebab” dari emosi itu muncul. Yang akhirnya dapat menyelesaikannya dengan baik. Kegiatan-kegiatan yang positif tersebut dapat membantu untuk menyalurkan emosi kita sehingga tak ada lagi emosi yang terpendam dan tak terselesaikan.

Penulis: Fathimatuzzahroh Rahmah Gustiani

image_pdfimage_print

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *