Kementerian Sosial Lakukan Respon Kasus Anak Dalam Situasi Darurat di Cianjur

CIANJUR, (24 Oktober 2020)- Kementerian Sosial melalui Balai Anak “Handayani” Jakarta kembali mendapatkan informasi mengenai anak dalam situasi darurat di Cianjur, Jawa Barat. Kali ini, informasi diperoleh dari Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak. Dalam informasi tersebut diketahui bahwa terdapat dua anak “NM” dan “RK” yang tinggal didalam sebuah gubuk yang tidak layak huni.

Merespon informasi tersebut, Kepala Balai Anak “Handayani”, Neni Riawati memberikan arahan dan tugas kepada Pekerja Sosial untuk segera melakukan penelusuran sesuai SOP, melakukan asesmen dan analisa kebutuhan anak.

Pekerja Sosial Balai Anak “Handayani” segera menuju ke alamat rumah anak untuk segera merespon kasus tersebut. Didampingi oleh Kasi Kesra, Rahmat, Poldes, Ahmad Zaenuman, serta pihak Kepolisian, dan TNI, Pekerja Sosial pada akhirnya dapat menemui kedua anak tersebut. Berdasarkan hasil asesmen, diketahui bahwa “NM” dan “RK” tinggal bersama kedua orangtuanya di gubuk yang dibuat sendiri oleh ayahnya dari terpal bekas spanduk dan kain yang sudah tidak terpakai yang merupakan pemberian dari warga sekitar. “NM” dan “RK” berusia 4 tahun dan 4,5 bulan. Mereka sebenarnya bukan warga asli setempat dan tinggal di tanah milik perhutani. Ayah kedua anak tersebut tidak bekerja dan hanya mengandalkan kemampuan bercocok tanam dengan alasan tidak bisa bekerja. Ia menderita sakit asam urat dan lambung sehingga yang mencari nafkah adalah Ibunya dengan berjualan sayuran milik warga dengan hasil dibagi dua.

Setiap hari kedua anak tersebut ikut berjualan bersama Ibunya dan tidak mau ditinggalkan bersama Ayahnya. Untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, mereka hanya mengandalkan penghasilan dari Ibunya dan belas kasihan warga sekitar. Pandemi Covid-19 ini juga membuat orangtua “NM” dan “RK” semakin kesulitan untuk mencari nafkah. Orangtua kedua anak tersebut saat ini belum mempunyai kartu keluarga, akte kelahiran dan tidak mempunyai surat nikah. Sakti peksos sudah melakukan koordinasi dengan pihak desa setempat untuk pengurusan kependudukannya dan saat ini masih dalam proses pembuatan. “NM” dan “RK” hingga saat ini belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah dikarenakan tidak tercatat pada berkas kependudukan.

Ketika dilakukan penggalian kepada ibu “NM” dan “RK”, diketahui bahwa Ibunya pernah mendapat perlakuan kekerasan dari suaminya, namun saat ini sudah tidak melakukan kekerasan karena sudah dilakukan pengawasan oleh pihak terkait ke rumahnya. “NM” dan “RK” tidak pernah bermain bersama teman-teman sebayanya karena selalu mengikuti Ibunya yang berjualan.

“NM” dan “RK” diberikan bantuan pemenuhan gizi dan nutrisi berupa susu, vitamin, biskuit, makanan pendukung lainnya, tempat tidur busa, bantal dan guling. Selanjutnya akan dilakukan monitoring berkala kepada anak tersebut. Balai Anak “Handayani” juga telah berkoordinasi dengan Sakti Peksos dan Dinas Sosial setempat untuk bersama melalukan perlindungan dan pendampingan bagi kedua anak.

Penulis: Tuti Nurhayati

Editor: Humas Ditjen Rehsos




Kunker ke Balai Anak Handayani, DPRD Jawa Barat Konsultasi Pembuatan Kebijakan Perlindungan Anak

JAKARTA (26 OKTOBER 2020) – Balai Anak Handayani pada senin (26/10) menerima kunjungan kerja 23 Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat yang merupakan anggota Panitia khusus (Pansus) Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Penyelenggaraan Perlindungan Anak. Kunker yang dipimpin oleh Ketua Pansus Sri Rahayu ini bertujuan untuk meminta data dan informasi terkait dengan pembahasan rancangan perda yang sedang dikerjakan.

“Kedatangan kami di sini untuk meminta informasi mengenai proses penanganan anak di Balai Anak Handayani. Selain itu, kami membutuhkan masukan dari Balai untuk penyempurnaan rancangan perda yang sedang kami kerjakan, ” jelas Sri dalam sambutannya.

Senada dengan Ketua Pansus, Kepala Dinas Pemberdayan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jawa Barat, Poppy Shopia Bakur, yang ikut mendampingi rombongan menyampaikan harapannya agar Balai Anak Handayani bisa melengkapi poin-poin penting yang akan dimasukkan ke dalam Raperda nantinya.

“Data menunjukkan bahwa 35% dari jumlah penduduk Jawa Barat adalah anak, sehingga penting bagi kami sebagai pemerintah provinsi Jawa Barat agar ada landasan dalam melaksanakan program, dan Raperda ini merupakan inisiatif dari pemerintah. Jadi kami berharap Balai dapat memberikan masukan terutama dari sisi rehabilitasi dan pencegahan,” terang Poppy.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Balai Anak Handayani, Neni Riawati menyambut baik upaya Pemerintah Jawa Barat dalam merancang perda khusus untuk perlindungan anak. Menurut Neni, perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama sehingga pemerintah pusat dan daerah harus bersinergi dalam upaya penanganan anak.

“Kami sangat mendukung upaya Pemerintah Jabar, dan sudah menjadi tugas kami memberikan dukungan dalam penyusunan regulasi. Karena nantinya regulasi tersebut akan mempermudah kami dalam pelaksanaan ATENSI yang saat ini menjadi program unggulan kami,” ujar Neni.

Neni berharap Raperda bisa mengakomodir program-program ATENSI seperti penanganan rehabilitasi berbasi residensial, keluarga, dan komunitas.

Menurut Neni, sinergitas antara pemerintah pusat dan Pemda sangat penting, terutama dalam proses reintegrasi. “Setelah menerima rehabilitasi, anak akan kembali ke masyarakat, dan tentu setelah di keluarga, tanggung jawab berpindah ke pemerintah daerah,” ujar Neni mencontohkan.

Selain membahas tentang poin pencegahan, rehabilitasi, dan reintegasi, kunker juga membahas peran dan posisi media dalam penyebaran informasi yang mempengaruhi upaya penanganan anak. Terakhir, pansus sepakat menyerahkan draft Rakerda Penyelenggaraan Perlindungan Anak untuk ditelaah oleh pihak balai.

Penulis: Rizka Surya Ananda

WhatsApp Image 2020-10-26 at 17.44.10

WhatsApp Image 2020-10-26 at 17.44.10 (1)


Previous
Next




Polisi Libatkan Kementerian Sosial dalam Penyelesaian Kasus “Anak-Anak Demo UU Cipta Kerja”

JAKARTA, (21 Oktober 2020) – Pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) beberapa waktu lalu menuai pro dan kontra dari masyarakat Indonesia. Sebagai dampak, terjadi demo hampir di seluruh wilayah Indonesia. Sayangnya, mayoritas pendemo merupakan para pelajar. Polisi menangkap sekitar seribu lebih pelajar yang terlibat dalam aksi demo, namun hanya beberapa yang pada akhirnya dinyatakan bersalah karena melakukan tindak anarkis terutama tindak melawan petugas dan sisanya telah dikembalikan kepada orang tuanya masing-masing.

Kementerian Sosial melalui Balai Anak “Handayani” Jakarta diundang oleh Polres Jakarta Barat untuk terlibat dalam proses advokasi sosial melalui diversi. Terdapat tiga anak pelaku yang terlibat dalam aksi demo UU Cipta Kerja. Demo tersebut dilakukan di sekitar jalan Gaja Mada Jakarta Barat.

Merespon hal tersebut, Direktur Rehabilitasi Sosial Anak, Kanya Eka Santi
memberikan arahan kepada Pekerja Sosial untuk membantu menyelesaikan perkara ketiga anak tersebut melalui proses diversi. Diversi merupakan upaya penyelesaian masalah Anak Berhadapan Dengan Hukum (ABH) di luar proses persidangan, sehingga pemenjaraan terhadap ABH merupakan pilihan terakhir sebagai penyelesaian kasus ABH.

“Ini perkara penting, anak-anak yang terlibat demo mayoritas merupakan anak sekolah, pendidikan dan kepentingan terbaik anak harus menjadi salah satu pertimbangan sehingga diversi bisa berhasil”, pesan Kanya

Setelah itu, Pekerja Sosial segera menghadiri proses diversi yang dilaksanakan di Polres Jakarta Barat. Sebelum dilaksanakan diversi, Pekerja Sosial melakukan rapid asesmen untuk membuat bahan pertimbangan putusan diversi. Berdasarkan hasil asesmen, diperoleh informasi bahwa ketiga anak tertarik mengikuti aksi demo karena ajakan teman, dua anak diajak saat oleh teman satu tongkrongan, sementara satu anak diajak melalui chat yang ada di dalam grup aplikasi pesan miliknya. Ketiganya diketahui terlibat pelemparan terhadap polisi.

Pelaksanaan diversi dihadiri oleh Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (Kanit PPA), penyidik, polisi yang menjadi korban, Pembimbing Kemasyaratan Balai Pemasyarakatan (PK BAPAS), kuasa hukum anak, keluarga anak, dan Pekerja Sosial Balai Anak “Handayani”.

Proses diversi yang dipimpin oleh Kanit PPA dapat berjalan lancar walaupun memerlukan pembahasan yang cukup panjang. Setelah cukup panjang bermusyawarah, diversi dinyatakan berhasil dengan kesepakatan yaitu: (1) Satu anak diwajibkan melakukan pelayanan sosial sebagai anggota Pekerja Penanganan Sarana dan Prasarana Umum (PPSU) Kelurahan Keagungan Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat dimana anak tinggal. Pelayanan sosial dilaksanakan selama 3 bulan 3 kali perminggu dengan pengawasan intensif, (2) satu anak diwajibkam membersihkan musholla selama 1 bulan setiap sore hari dengan pengawasan intensif, dan (3) anak menjalani program rehabilitasi sosial di Balai Anak “Handayani” selama tiga bulan dengan pengawasan intensif oleh PK BAPAS.

Proses penindakan anak-anak yang terlibat aksi demo UU Cipta Kerja oleh polisi ini, tidak berhenti sampai disini. Seperti yang telah diketahui bahwa jumlah anak dalam aksi demo ini sangat banyak. Kementerian Sosial melalui Balai Anak “Handayani” memastikan keterlibatan penanganan permasalahan ini secara konsisten dan berkelanjutan. Selanjutnya, akan dilaksanakan beberapa proses diversi di beberapa Polres yang wilayahnya menjadi titik pelaksanaan aksi demo, termasuk di Polda Metro Jaya.

Penulis: Sri Musfiah

Editor: Humas BRSAMPK “Handayani” Jakarta




Kementerian Sosial Dampingi Delegasi Anak Indonesia pada 6th ASEAN Children Forum 2020

JAKARTA, (13 Oktober 2020)– ASEAN Children Forum (ACF) merupakan salah satu kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh negara-negara di Association of Shouteast Asian Nations (ASEAN). Sebagai delegasi dari Indonesia, 4 anak terpilih mewakili Indonesia untuk menyuarakan ide-idenya. Keempatnya berasal dari beberapa wilayah di Indonesia yaitu Ema Dilsiana yang berasal dari Yayasan Kampus Diakoneia Modern (KDM) Bekasi, perwakilan Forum Anak Nasional (FAN) yaitu Belva Rehardini yang berasal dari Solo, serta Abdul Gilang Tawakkal berasal dari Makassar, dan terakhir perwakilan dari teman autis Yayasan Autism Indonesia yaitu M. Lukman Ibrahim Salim yang berasal dari Jakarta.

Penandatanganan Hanoi Declaration on The Enhancement of Welfare and Development of ASEAN Women and Children oleh seluruh negara di ASEAN, menjadi penanda bahwa seluruh negara di ASEAN sepakat untuk menyediakan suatu forum sebagai wadah kepada anak-anak dalam mengemukakan ide-idenya serta mendengarkan aspirasi anak-anak. Kegiatan ini dilaksanakan setiap dua tahun sekali dengan tuan rumah negara ASEAN secara bergantian. Walaupun di tengah pandemi Covid-19, tidak menghalangi seluruh anak-anak untuk berpartisipasi dalam ACF ini. Tahun ini, Kamboja menjadi tuan rumah penyelenggara ACF ke-6 dengan tema “Dampak Covid-19 dan Situasi Saat ini bagi Anak-Anak” yang dilaksanakan secara online.

Melalui Kementerian Sosial RI yang dikomandoi oleh Direktur Rehabilitasi Sosial Anak, Kanya Eka Santi, bekerja sama dengan Kabag Kerja Sama Luar Negeri Biro Perencanaan Susi Tanjung, Mentor delegasi Indonesia yang berasal dari Balai Anak “Handayani” Jakarta, Tirani Larasati, dan fasilitator lainnya dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) RI bersama memfasilitasi anak-anak Indonesia bergabung dan mempersiapkan seluruh materi pada kegiatan ACF ke-6 ini. “Harus didukung, ini waktunya anak-anak Indonesia menunjukkan kemampuannya di kancah Internasional, kita bahas materinya dan kawal bersama adik-adik agar dapat menampilkan yang terbaik”, kata Kanya.

Kegiatan diawali dengan sambutan oleh Deputy Secretary General of ASEAN for ASEAN Socio Cultural Community, H.E. Kung Phoak yang kemudian dilanjutkan dengan penampilan tarian tradisional Kamboja, Whising Dance oleh anak-anak Kamboja. Khung Phoak menceritakan secara singkat misi pelaksanaan ACF dari tahun ke tahun serta harapannya terhadap seluruh anak-anak di ASEAN walaupun di tengah pandemi ini. “Banyak sekali hal-hal positif yang dapat kamu lakukan selama pandemi. Kamu bisa meningkatkan keterampilan dan juga dapat mempelajari hal yang baru. ACF merupakan wadah untuk berbagi pengalaman serta mencari solusi terbaik dalam menghadapi Covid-19 yang langsung berasal dari suara anak”, kata Kung Phoak

Selanjutnya, kegiatan secara resmi dibuka oleh Secretary of State of Ministry of Social Affairs, Veteran, and Youth Rehabilitation of Cambodia, H.E Samheng Boros. Ia berterima kasih sekaligus merasa bangga mendapatkan kesempatan untuk menjadi tuan rumah ACF ke-6 walaupun hanya melalui koneksi internet. Ia berharap agar ACF ini bisa menjadi pengingat yang dapat mendorong kita semua untuk lebih memahami perasaan anak-anak dan tentu dapat melindungi anak-anak kita dari Covid-19. “Silahkan berikan rekomendasi sebanyak mungkin, karena kita ingin mendengar secara langsung dari suara kalian”, pesan Samheng

Kegiatan dilanjutkan dengan paparan masing-masing negara dengan tema yang telah ditentukan. Delegasi Indonesia dengan percaya diri memaparkan materi mengenai “Mental Health and Recovery” yang diawali dengan penjelasan mengenai kondisi faktual di Indonesia yang dirasakannya menghadapi Covid-19. Sebelumnya, delegasi Indonesia melakukan survey terhadap 340 anak Indonesia berkaitan dengan dampak Covid-19. Berdasarkan hasil survey tersebut, diketahui rasa bosan menjadi dasar yang dirasakan anak-anak Indonesia yang akhirnya berpengaruh kepada kesehatan mental. Hal tersebut diperparah dengan kondisi lingkungan keluarga maupun masyarakat yang terdampk Covid-19. Dimulai dari banyaknya orang tua yang diberhentikan dari pekerjaannya dan menyebabkan kondisi ekonomi keluarga yang kian menyusut hingga berpengaruh terhadap proses belajar yang dilakukan secara online dimana membutuhkan data internet serta gadget yang memadai.

Namun hal tersebut tidak mematahkan semangat anak-anak Indonesia. Banyak hal baik yang dapat dipetik selama masa karantina, seperti membuat proyek motivasi, bergabung dalam forum-forum pengembangan diri, mengikuti seminar, dan bisa lebih membangun kelekatan dengan orang tua dan keluarga. Paparan diakhiri dengan pemberian rekomendasi bagi seluruh negara ASEAN dan bagi para orang tua, terutama rekomendasi yang berkaitan dengan treatment untuk mengurangi rasa bosan selama pandemi Covid-19.

Kegiatan ini diselingi dengan materi dari World Health Organization (WHO), United Nations Children’s Fund (UNICEF), dan LEGO Group. Seluruh anak-anak diberikan pemahaman mengenai pencegahan pandemi Covid-19 di era new normal, diberikan cara untuk bermain internet atau pemanfaatan gadget dengan bijaksana sehingga dapat meningkatkan keterampilan, serta tanya jawab seputar Covid-19. Seluruh delegasi negara-negara ASEAN, terutama delegasi Indonesia dapat menunjukkan keaktifannya dengan bertanya dan mengungkapkan pendapat.

Kegiatan ditutup dengan ASEAN song performance yang dinyanyikan oleh masing-masing perwakilan negara dan review recommendations dari seluruh negara di ASEAN. Selanjutnya, kegiatan ACF ke-7 akan dilaksanakan pada tahun 2022 dimana Indonesia akan menjadi tuan rumah penyelenggara kegiatan.

Penulis: Tirani Larasati

Editor: Humas Ditjen Rehsos

WhatsApp Image 2020-10-14 at 10.15.45

WhatsApp Image 2020-10-14 at 10.15.45 (1)

WhatsApp Image 2020-10-14 at 10.15.46

WhatsApp Image 2020-10-14 at 10.15.45 (2)

WhatsApp Image 2020-10-14 at 10.15.46 (1)

WhatsApp Image 2020-10-14 at 10.15.47

WhatsApp Image 2020-10-14 at 10.15.47 (1)

WhatsApp Image 2020-10-14 at 10.15.47 (2)

WhatsApp Image 2020-10-14 at 10.15.48

WhatsApp Image 2020-10-14 at 10.15.48 (1)

WhatsApp Image 2020-10-14 at 10.15.49


Previous
Next




Kementerian Sosial Selenggarakan Atensi Keluarga bagi Anak Korban Pelecehan Seksual di Sukabumi

SUKABUMI, (7 Oktober 2020) – Kementerian Sosial melalui Balai Anak “Handayani” di Jakarta beberapa waktu yang lalu kembali menerima laporan mengenai kasus pelecehan seksual yang menimpa 8 anak di Sukabumi. Laporan tersebut berasal dari Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) yang menjelaskan mengenai 7 anak mengalami pelecehan seksual oleh kakek berusia 70 tahun yang tinggal di sekitar rumahnya dan 1 anak mengalami pelecehan seksual oleh ayah kandungnya.

Laporan tersebut segera ditindaklanjuti oleh Balai Anak “Handayani” melalui arahan Direktur Rehabilitasi Sosial Anak, Kanya Eka Santi. “Respon kasus ini segera, lakukan juga asesmen bagi anak-anak korban, cari tahu apa permasalahan dan apa kebutuhan mereka serta berikan edukasi melalui kegiatan family support”, kata Kanya. Selain itu, Kanya juga berpesan untuk melakukan respon kasus sesuai dengan Program Asistensi Rehabilitasi Sosial (Atensi). Tim Balai Anak “Handayani” akan menyelenggarakan family support melalui pemberian materi psikoedukasi bagi anak-anak korban dan parenting skill bagi seluruh para orang tua.

Sesampainya di Sukabumi, tim Balai Anak “Handayani” segera melakukan asesmen dan kegiatan family support . Tim dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu tim I yang bersama orang tua dan tim II bersama anak-anak. Tim I memberikan materi parenting skill kepada orang tua agar orang tua lebih memahami pola pengasuhan terbaik bagi anak. Sementara tim II memberikan materi psikoedukasi kepada anak agar anak-anak mengenali anggota tubuhnya sendiri, bagian mana saja yang tidak boleh dilihat dan disentuh oleh orang lain.

Tim juga memberikan rekomendasi mengenai hasil asesmen yang telah dilakukan kepada anak-anak, agar dapat ditindaklanjuti oleh orang tua terutama dalam upaya pengawasan dan perlindungan bagi anak. Setelah itu, kedua tim bergabung untuk mengunjungi seluruh rumah anak agar lebih mengetahui kondisi lingkungan anak.

Esoknya, kegiatan Atensi Keluarga, dilanjutkan dengan koordinasi dan pembahasan kasus seluruh anak dengan P2TP2A Kecamatan Sukaraja, PATBM Desa Limbangan, Motekar, PKK Kecamatan Sukaraja, tokoh masyarakat, dan Sakti Peksos Kabupaten Sukabumi.

Kesepakatan dari pembahasan kasus tersebut adalah anak akan menjalani rehabilitasi sosial untuk pemulihan psikososial dan kelanjutan pendidikannya. Setelah itu apabila kondisi anak sudah membaik maka anak akan dirujuk ke LKSA Nurun Nisa Cicurug Sukabumi. Balai Anak “Handayani” juga akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan seluruh anak melalui koordinasi dengan pihak-pihak terkait.

Penulis: Sri Musfiah, Vivi Marlina, dan Fathimatuzzahroh Rahmah Gustiani

Editor: Humas BRSAMPK Handayani

WhatsApp Image 2020-10-11 at 17.21.54

WhatsApp Image 2020-10-11 at 17.21.54 (1)

WhatsApp Image 2020-10-11 at 17.21.55


Previous
Next




Kementerian Sosial Respon Kasus Anak dengan HIV/AIDS Terdampak Covid 19

JAKARTA, (6 Oktober 2020) – Pandemi Covid 19 masih terus berlangsung di Indonesia. Banyak warga yang terdampak baik secara ekonomi maupun mental. Kementerian Sosial melalui Balai Anak “Handayani” kembali menerima laporan (28/09) mengenai anak terdampak Covid-19 yang perlu direspon dengan segara. Laporan berasal dari Yayasan Lentera dimana terdapat 10 anak dengan HIV/AIDS di wilayah DKI Jakarta yang saat ini sulit memperoleh kebutuhan hak dasarnya sehari-hari.

Merespon laporan tersebut, Pekerja Sosial Balai Anak “Handayani” kemudian segera mendatangi ke-10 rumah anak-anak tersebut untuk melakukan asesmen didampingi oleh pihak Yayasan Lentera. Setelah dilakukan asesmen, diketahui bahwa 10 anak berkisar pada usia 5-12 tahun. Sebagian besar anak-anak tersebut telah yatim piatu sehingga pengasuhan dialihkan kepada nenek atau tantenya.

Mirisnya, diketahui 10 anak tersebut tertular HIV/AIDS karena ketidaktahuan orang tua yang memang mengidap HIV/AIDS. Orang tua mengetahui dirinya mengidap HIV/AIDS setelah anak-anak berusia sekitar 2-3 tahun melalui pemeriksaan kesehatan dan tes HIV/AIDS. Seluruhnya termasuk dalam golongan ekonomi rendah. Saat ini wali ke-10 anak kesulitan mencari nafkah karena pandemi Covid-19. Sebagian dikeluarkan dari tempat kerjanya, sebagian lagi berhenti menjadi wirausaha karena tidak lagi memiliki modal.

Berdasarkan hasil asesmen, diketahui anak membutuhkan makanan untuk nutrisi dan gizinya. Seluruhnya diberikan bantuan berupa susu, vitamin, biskuit, buah, dan makanan pendukung lainnya. Selanjutnya akan terus dilakukan koordinasi serta monitoring berkala kepada anak-anak bekerja sama dengan Yayasan Lentera.

Penulis: Ariffin Nuur Sallamm

Editor: Humas Ditjen Rehsos

WhatsApp Image 2020-10-07 at 20.08.38 (1)

WhatsApp Image 2020-10-07 at 20.08.39

WhatsApp Image 2020-10-07 at 20.08.39 (1)


Previous
Next




Kementerian Sosial Berikan Dukungan Anak dengan Disabilitas Ganda di Bekasi

BEKASI, (5 Oktober 2020) — Kamis malam (01/10), Kementerian Sosial melalui Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial memperoleh laporan pengaduan masyarakat mengenai anak dengan kondisi disabilitas ganda di wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Adalah “Z” seorang anak laki-laki berusia 5 tahun yang mengalami kesulitan dalam pemenuhan nutrisi dan gizi, serta perawatan alat bantu pendengaran dan penglihatan. Sang Ayah semula merupakan pekerja pabrik, saat ini harus dirumahkan sejak pandemi Covid-19 merebak di Indonesia.

Berbekal laporan tersebut, Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial, Harry Hikmat memberikan arahan agar kasus ini segera ditangani oleh Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak dan Balai Anak “Handayani”. “Tolong lakukan penelusuran keluarga, pastikan apa kebutuhan anak. Lakukan asesmen dan segera bantu demi kepentingan terbaik anak,” kata Harry

Selanjutnya, Pekerja Sosial Balai Anak “Handayani” mengunjungi kediaman anak untuk melakukan asesmen. Didampingi oleh Ketua RT, Faturohman bertemu dengan “Z”, ayahnya “R”, dan ibunya “N”.

Berdasarkan hasil asesmen, diketahui bahwa “Z” lahir secara normal dengan berat badan 2,5 gram dan panjang badan 50 cm. “Z” dilahirkan saat usia kandungan masih 8 bulan. Sehingga “Z” mendapatkan beberapa perawatan sesudah dilahirkan dan kemudian “Z” didiagnosa Dokter memiliki penyakit rubella congenital yang menghambat tumbuh kembangnya.

Saat ini, dengan usianya yang menginjak 5 tahun, “Z” hanya memiliki berat badan 14 kg. “Z” juga memiliki kekurangan dalam penglihatan serta pendengarannya. Ditambah “Z” memiliki permasalahan pula pada pencernaannya dimana “Z” hanya dapat mencerna makanan yang lembut.

Saat berusia 2,5 tahun Yayasan Budha Suci melakukan penggalangan dana melalui kitabisa.com sehingga “Z” memperoleh alat bantu pendengaran dengan proses implan koklea untuk membantu pendengarannya. Sementara untuk penglihatan, “Z” dibantu melalui Donasi Optik Tunggal dan telah dilakukan operasi katarak serta diberikan bantuan kaca mata.

Seluruh bantuan yang telah diberikan, sayangnya belum dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh “Z”. Terdapat beberapa perawatan dan terapi rutin yang wajib dilakukan oleh “Z” namun terkendala oleh kondisi ekonomi. Untuk pemanfaatan alat bantu pendengaran, “Z” secara rutin harus melakukan terapi auditori visual yang memerlukan biaya baik untuk pelaksanaan terapinya serta transportasi. Selain itu, alat bantu pendengaran yang digunakan oleh “Z” setiap tahunnya harus diasuransikan sebesar 4,5 juta rupiah.

Sementara untuk kacamata yang digunakan “Z”, harus mendapatkan perawatan dan pembaharuan mengingat kondisi mata dan tubuh “Z” yang terus berkembang. Sang Ayah yang saat ini sudah tidak bekerja merasa khawatir akan keberlangsungan kehidupan anaknya yang membutuhkan perawatan khusus.

Merespon permasalahan “Z”, Penasehat Dharma Wanita Persatuan Kementerian Sosial RI, Grace Batubara didampingi oleh Direktur Rehabilitasi Sosial Anak, Kanya Eka Santi, mendatangi rumah anak untuk melihat, memantau kondisi perkembangan “Z”, serta memberikan bantuan bagi “Z”. Selain itu, hadir juga perwakilan dari Dinas Sosial Kab. Bekasi, pihak Kecamatan, Bidan, hingga pihak Kelurahan dan RW/RT setempat. Grace tidak segan bercengkrama dengan “Z”, bahkan “Z” sempat terlelap tidur di bahunya.

Bantuan yang diberikan kepada “Z” oleh Kementerian Sosial melalui Balai Anak “Handayani” merupakan bantuan pemenuhan gizi dan nutrisi bagi “Z” seperti susu kedelai, zat besi, prebiotik, beras coklat, dan buah-buahan. Selain itu, Kementerian Sosial melalui Direktorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas, akan melakukan pendampingan terapi auditori verbal untuk melatih pendengaran “Z” dan akan memberikan mendukung pemeriksaan mata dan penggantian kacamata.

Penulis: Tirani Larasati

Editor: Humas Ditjen Rehsos

WhatsApp Image 2020-10-05 at 20.49.15

WhatsApp Image 2020-10-05 at 20.49.14 (1)

WhatsApp Image 2020-10-05 at 20.49.14

WhatsApp Image 2020-10-05 at 20.49.12

WhatsApp Image 2020-10-05 at 20.49.12 (1)

WhatsApp Image 2020-10-05 at 20.49.13

WhatsApp Image 2020-10-05 at 20.49.13 (1)

WhatsApp Image 2020-10-05 at 20.49.14 (2)


Previous
Next