Perkuat Barisan: Balai Anak Handayani Perdalam Atensi Melalui Capacity Building bagi Para Pegawainya

Cianjur, 27 Agustus 2020 – Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial RI, Harry Hikmat menghadiri kegiatan Capacity Building Petugas Balai di Lingkungan Balai Anak Handayani Jakarta di Cianjur, Jawa Barat. Turut hadir mendampingi Dirjen Rehsos, Direktur Rehabilitasi Sosial Anak, Kanya Eka Santi.

Dalam sambutannya, Harry Hikmat memaparkan program ATENSI (Asistensi Rehabilitasi Sosial) yang merupakan branding baru di lingkungan Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial. ATENSI adalah strategi operasional yang mendorong program layanan di Unit Pelayanan Teknis (UPT) Ditjen Rehsos yang menangani 5 kluster yaitu Anak, Penyandang Disabilitas, Tuna Sosial/Korban Perdagangan Orang, Lanjut Usia, dan NAPZA.

Khusus anak, Harry mengatakan bahwa masalah yang dihadapi cukup kompleks. “Kompleksitas permasalahan anak punya ciri khas nya sendiri dan juga spesifik sehingga memerlukan perlakuan yang berbeda. Hal ini tentu menjadi tantangan sendiri bagi kita,” jelas Harry di hadapan peserta yang hadir.

Pada tahun 2019, Direktorat Anak telah menangani lebih dari 109.000 anak. Menurut Harry, angka ini tidak sampai 5% dari 27,4 juta anak yang terdaftar di Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

Melalui ATENSI, Harry optimis tantangan permasalahan anak dapat ditangani. “Kita kuatkan pelaksanaan rehabilitasi sosial berbasis keluarga, komunitas, dan residensial. Balai anak tidak hanya berkutat di dalam balai saja, namun secara intensif memberikan layanan di keluarga dan komunitas,” paparnya.

Lebih lanjut, Harry menyampaikan balai akan bekerja sama dengan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) dalam melaksanakan ATENSI. “LKSA akan menjadi agen balai dalam ATENSI. Misalnya jika ada kasus anak, maka kita bisa menghubungkan dengan LKSA terdekat. Oleh karena itu, kita perlu memetakan sebaran anak dengan kategori masalahnya dan LKSA terdekat,” sambung Harry.

ATENSI akan membawa perubahan paradigma layanan di balai-balai. Pelayanan sosial yang awalnya berbasis sektoral dengan jangkauan terbatas akan berubah menjadi layanan sosial terpadu, berkelanjutan, dan dapat menjangkau seluruh masyarakat.

“Harapan nya, balai anak nantinya akan menjadi children center dan multifungsi. Jadi tidak hanya menangani anak dengan kasus tertentu saja. Balai tidak lagi melayani longterm care , tetapi berubah menjadi temporary shelter dan melakukan early intervention berbasis manajemen kasus, serta menjadi pusat layanan keluarga dan komunitas,” tutur Harry.

Harry melanjutkan, dengan perubahan paradigma dan fungsi ini, tentunya harus diikuti dengan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia. ATENSI menuntut praktek pekerjaan sosial professional, sehingga SDM harus tersertifikasi.

ATENSI dengan basis keluarga, komunitas, dan residensial bukan lah hal baru. Undang-undang No. 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial juncto Pasal 5 Ayat (1) PP No. 39 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial telah mengamanatkan bahwa rehabilitasi sosial dapat dilaksanakan secara persuasif, motivatif, koersif, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun panti sosial.

Menurut Harry, target jangkauan balai naik hingga tiga kali lipat dengan adanya ATENSI karena jangkauan yang tidak hanya terpaku pada layanan di dalam balai saja. “Subjek ATENSI adalah individu, keluarga, kelompok/komunitas/LKS, serta SDM, sehingga banyak yang bisa mendapatkan layanan,” lanjut Harry.

Selain ATENSI, Ditjen Rehsos sedang merintis Centerlink SERASI (Sentra Layanan Sosial) yang akan menjadi pusat layanan terpadu. SERASI mengadopsi Centerlink milik pemerintah Australia, Single Windows Service Jerman, dan One Stop Service di beberapa negara Asia. Ada 5 balai yang tenga dijadikan pilot project SERASI. Diharapkan SERASI nantinya mampu mengimbangi ATENSI sehingga layanan rehabilitasi sosial dapat dilakukan dengan komprehensif, terstandarisasi, dan profesional.

Pada akhir paparannya, Harry mengajak pegawai Balai Anak Handayani yang hadir untuk terus meningkatkan skill dan mengembangkan potensi karena pegawai adalah front liner ATENSI yang akan menjadi ujung tombak pelayanan yang berkualitas. Lebih lanjut, Harry berharap agar pegawai dapat melaksanakan tugas dengan tulus dan iklhas, terutama dalam pekerjaan bersama anak.

Humas Balai Anak Handayani

WhatsApp Image 2020-08-27 at 20.53.51

WhatsApp Image 2020-08-27 at 20.53.50

WhatsApp Image 2020-08-27 at 20.53.51 (1)

WhatsApp Image 2020-08-27 at 20.53.52 (1)

WhatsApp Image 2020-08-27 at 20.53.53


Previous
Next




Vonis Hakim, NF Direhabilitasi di Kemensos

JAKARTA, 18 AGUSTUS 2020- – Majelis hakim menjatuhkan vonis hukuman 2 tahun rehabilitasi sosial bagi NF, remaja yang terlibat kasus viral di Sawah Besar Maret lalu. Belakangan diketahui bahwa NF juga merupakan korban kekerasan seksual oleh tiga orang terdekat nya.

Melalui vonis ini, NF akan menjalani masa rehabilitasi sosial di Balai Anak “Handayani” Jakarta yang merupakan salah satu Lembaga Penyelenggaran Kesejahteraan Sosial (LPKS) milik Kementerian Sosial.

Sejak kasus ini mencuat, Kementerian Sosial sangat konsen pada proses peradilan, perlindungan, serta rehabilitasi sosial bagi NF karena ia masih dibawah umur. Kemensos terus melakukan upaya pendampingan selama persidangan berlangsung. Salah satunya dengan menyediakan kuasa hukum dan menghadirkan saksi ahli seperti Seto Mulyadi (Pemerhati Anak), Harkristuti Hernowo (Ahli Hukum Pidana), dan Hadi Utomo (Ahli Hak Anak).

Kasus ini mendapatkan perhatian langsung dari Menteri Sosial Juliari P Batubara. Pada awal kasus ini muncul, Juliari datang langsung bertemu dengan keluarga korban untuk memberikan dukungan moril. Selain itu, Juliari juga menginstruksikan agar jajarannya memberikan perlindungan dan bantuan hukum kepada NF.

Sementara itu, Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial RI, Harry Hikmat dalam keterangannya menyambut baik putusan ini karena yang diperlukan NF adalah rehabilitasi sosial, bukan hukuman penjara.
“Saya rasa ini adalah sebuah vonis yang adil. Rehabilitasi sosial di balai adalah yang terbaik untuk NF saat ini,” terang Harry.

Harry menambahkan bahwa selama masa titipan di Balai Anak “Handayani”, NF telah menunjukkan perubahan perilaku yang cukup baik. “Selama di Handayani kan dia sudah bagus perkembangan nya, jadi dengan adanya nya putusan ini harapannya dia bisa jadi lebih baik lagi,” sebut Harry.

Saat disinggung soal kehamilan NF, Harry
memastikan bahwa Balai Anak “Handayani” akan memfasilitasi proses persalinan hingga nanti memastikan bayi NF akan mendapatkan pengasuhan yang tepat.
“Jadi nanti setelah melahirkan, kita akan coba asesmen keluarga nya apakah mampu untuk mengasuh atau tidak. Alternatif lainnya adalah foster care, karena ini juga program yang sedang kita galakkan. Yang pasti kita ingin bayi nya mendapatkan pengasuhan yang terbaik,” papar Harry.

Terakhir, Harry menyampaikan bahwa kasus ini adalah pelajaran bagi kita semua. Terutama Kemensos dalam merespon kasus anak yang berhadapan dengan hukum. Rencana nya, Kementerian Sosial melalui Ditjen Rehsos akan menyelenggarakan refleksi terhadap hasil putusan hakim dan segera menyusun program rehabilitasi sosial bagi NF tentunya dengan melibatkan seluruh pihak-pihak terkait.

Humas BRSAMPK “Handayani” Jakarta