Hedayah Selenggarakan Training Bagi Pekerja Sosial Dan Psikolog Brsampk Handayani

Jakarta (20 Januari 2020) –  Merupakan hari pertama Hedayah bertemu para pekerja sosial serta psikolog yang bekerja dalam upaya penanggulangan ekstrimis berbasis kekerasan, atau yang lebih dikenal dengan Countering Violent Extrimist (CVE) di Indonesia. Dilaksanakan selama empat hari, training Hedayah yang merupakan pengembangan kapasitas para pekerja sosial dan psikolog yang dilaksanakan Hotel Mandarin Oriental Jakarta. Hedayah bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang disponsori oleh People of Japan ini mengusung tema “Mendukung Keluarga dalam CVE di Indonesia”. Selain mengundang para pekerja sosial dan psikolog BRSAMPK Handayani, Hedayah juga melibatkan pekerja sosial dari BRSAMPK lainnya di Indonesia, sakti peksos daerah Sragen, Surabaya, Aceh, dan Kalimantan Tengah yang dimana telah terlibat dalam CVE terutama bagi anak dan keluarga. Kegiatan ini dibuka oleh Thomson Hunter selaku Direktur Pengembangan Kapasitas Hedayah. Beliau menyatakan bahwa penanganan yang telah dilakukan di Indonesia merupakan salah satu bentuk nyata dalam melawan aksi-aksi terorisme dan upaya menyelamatkan anak bangsa. Lanjutnya, beliau juga menjelaskan sedikit mengenai Hedayah. Beliau menjelaskan bahwa Hedayah merupakan organisasi internasional utama yang didedikasikan untuk menggunakan keahlian dan pengalamannya untuk CVE dalam semua bentuk dan manifestasinya melalui dialog, komunikasi, program pengembangan kapasitas, penelitian dan analisis. Hedayah juga memliki fungsi untuk meningkatkan pemahaman dan berbagi praktik yang baik untuk secara efektif membangun kapasitas para pelaku CVE di seluruh dunia untuk mempromosikan toleransi, stabilitas, dan keamanan. Selanjutnya M. Zaim A. Nasution selaku Direktur Kerja Sama Regional dan Multilateral BNPT juga memberikan sambutan dan arahannya sebagai Badan yang membantu memfasilitasi pengembangan kapasitas yang dilakukan oleh Hedayah di Indonesia. Beliau menyampaikan harapannya agar pengembangan kapasitas ini menjadi jembatan seluruh ekspertis serta lembaga-lembaga di Indonesia untuk mengembangkan serta meningkatkan koordinasi penanganan CVE di Indonesia. Beliau juga berpesan agar seluruh peserta dalam pengembangan kapasitas ini dapat menunjukkan keaktifan serta semangat demi kelancaran jalannya kegiatan.

Hedayah menyediakan fasilitator yang memiliki pengalaman serta kompeten di dalam bidang CVE di dunia. Cristina Mattei sebagai program manager, Joseph Gyte sebagai program senior, serta Aditya Gana, Abiye Iruayenama, Nabila Sabban, serta Hakan Jarva mengemas semua materi pengembangan kapasitas dengan teknik dan metoda yang menarik. Sebagai ekspertis di bidang CVE, mereka juga tidak segan menceritakan pengalamannya saat berhadapan secara langsung dengan orang-orang yang terpapar radikalisme, teroris, bahkan orang-orang yang terpapar ISIS. Fasilitator juga menyiapkan materi praktis dimana mengutamakan sisi teknis dengan membubuhi sedikit banyak dengan teori. Hari pertama Hedayah menyiapkan 5 sesi materi yang beragam. Pada sesi pertama kita dikenalkan dengan istilah-istilah yang digunakan dalam CVE serta pendalaman dan pemahaman mengenai istilah tersebut. Selanjutnya pada sesi kedua kita diajarkan untuk CVE dengan mempertimbangkan push and pull factors atau faktor pendukung dan penarik orang baik secara makro maupun individu, hingga terlibat dalam jaringan ekstrimis kekerasan. Di sesi ketiga Hedayah mengajak pekerja sosial dan psikolog untuk mempelajari sejarah kelompok-kelompok ekstrimis di Indonesia, sementara di sesi keempat dan kelima Hedayah menyiapkan pemahaman materi mengenai unit keluarga dan peran perempuan. Secara jelas tim Hedayah menerangkan diselingi dengan pemahaman materi melalui studi kasus dan diskusi kelompok.

Pada hari kedua, Hedayah memberikan materi-materi yang lebih mendalam dalam praktek CVE. Sesi keenam kita diajarkan mengenai tantangan-tanganan yang mungkin terjadi saat berhadapan dengan keluarga ekstrimis kekerasan. Kita diajarkan mengenai bagaimana mengatasi trauma dari keluarga setelah mengetahui permasalahan keluarganya yang menjadi ekstrimis kekerasan. Pada sesi ketujuh dan kedelapan, Hedayah membagikan strategi yang baik dalam praktek CVE. Pada kedua sesi ini, dijelaskan secara mendalam melalui studi kasus dan diskusi pengalaman yang telah dilakukan. Sementara pada sesi kesepuluh dan sebelas, kita diajarkan untuk membangun kepercayaan dan teknik serta metoda dalam wawancara dan kajian kebutuhan. Kita diajarkan untuk dapat melakukan risk assesment (asesmen resiko) dan needs assessment (asesmen kebutuhan) dari para ekstrimis kekerasan. Kita didorong untuk lebih peka serta lebih dalam melihat hal-hal yang mungkin akan memberikan input dan informasi saat melakukan intervensi.

Hari ketiga, materi yang diberikan lebih bersifat praktis. Seluruh peserta kegiatan didorong untuk aktif dalam berpendapat, bahkan lebih kreatif dalam seluruh studi kasus yang diberikan. Dimulai dari sesi 12 hingga sesi 16, kita tidak henti didorong untuk mahir dalam teknik wawancara dengan ektrimis kekerasan, juga Hedayah mengajarkan teknik-teknik pendekatan masyarakat dalam proses reintegrasi. Selain itu, kita diminta untuk lebih peka terhadap teknik propaganda yang kelompok ekstrimis lakukan untuk merekrut anggota melalui media sosial.

Pada hari terakhir, merupakan sesi 17 hingga sesi 21 dimana pada sesi-sesi ini dibahas mengenai keterampilan digital dan media literasi dalam perekrutan teroris. Kita diajarkan pula untuk dapat membuat kontra narasi melalui media sosial dalam upaya CVE. Pada sesi terakhir, kita diajarkan untuk dapat melakukan terapi kepada diri sendiri agar tetap nyaman dan aman dalam menghadapi tekanan saat bekerja. Pendekatan yang dilakukan oleh fasilitator dalam sesi ini lebih bersifat praktis sehingga seluruh peserta training dapat menangkap seluruh isi materi yang diberikan.

Menutup kegiatan ini, para fasilitator merangkum dan menganalisa manfaat pelaksanaan training ini. Mereka juga mendorong para peserta untuk dapat mengembangkan materi yang telah diberikan dan dapat membuat rencana tindak lanjut. Seluruh rangkaian pengembangan kapasitas yang dilakukan oleh Hedayah benar-benar menggugah mata seluruh peserta untuk lebih fokus dalam membuat program CVE. Seluruh fasilitator yang memberikan materi tidak hanya terbuka dengan ilmu, juga tidak segan berbagi pengalaman-pengalaman mereka saat menangani ekstrimis kekerasan. Seluruh rangkaian kegiatan dan pemberian materi pengembangan kapasitas ini sangat berguna dalam meningkatkan kemampuan para pekerja sosial dan psikolog untuk berhadapan dengan esktrimis kekerasan terutama anak dan keluarga. Setelah itu, kegiatan ditutup kembali oleh Andhika Chrisnayudhanto, Deputi Bidang Kerja Sama Internasional BNPT. Yuta Kimura yang merupakan delegasi dari Pemerintah Jepang turut memberikan kata-kata penutup dan mengungkapkan rasa bangga serta apresiasi setinggi-tingginya kepada warga Indonesia yang mau terlibat aktif dalam pelaksanaan training ini. Terakhir Iva Veenkamp selaku Deputy Executive Director of Hedayah menutup kegiatan training ini dengan ucapan terima kasih serta harapan untuk dapat kembali bertemu dengan para peserta sekaligus melakukan evaluasi dari tindak lanjut yang dilakukan oleh peserta. Seluruh peserta akan berusaha untuk mengembangkan dan mengaplikasikan seluruh materi yang telah diberikan oleh para fasilitator Hedayah.

Oleh : Tirani Larasati

 

[metaslider id=940 cssclass=””]